“Target ini bukanlah mimpi kosong,” katanya.
Dengan total lahan pertanian yang luas, curah hujan melimpah, dan bonus demografi produktif, Indonesia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara.
Lebih dari sekadar panen raya, program ini menuntut sinergi antara kekuatan negara dan kearifan lokal.
Keterlibatan TNI dalam Satgas Pangan bukan untuk menggantikan peran petani, tetapi untuk memperkuat kelembagaan, mempercepat pembukaan dan optimalisasi lahan, serta menjamin distribusi dan logistik pangan yang efektif.
“Kami telah melaksanakan panen dengan hasil yang cukup baik. Tentu hal ini ada bukti otentik,” ujar Mayjen Rizal, menegaskan keberhasilan tahap awal program ini.
Namun, keberhasilan program ini tidak cukup hanya pada pencapaian produksi.
BACA JUGA: Duh Konflik Iran-Israel Berdampak Pada Jalur Pasok Migas ke Indonesia
Ketahanan pangan sejati adalah tentang ketersediaan, keterjangkauan, keberlanjutan, dan keadilan.
Pemerintah harus memastikan bahwa hasil panen tidak hanya melimpah, tetapi juga dapat diakses masyarakat luas dengan harga wajar.
Tidak boleh ada lagi ironi di negeri agraris yaitu petani panen, tetapi tetap miskin, pangan tersedia, tetapi rakyat lapar.
Pembangunan pertanian modern berbasis teknologi dan data, sebaiknya menjadi bagian dari agenda besar swasembada pangan.
Perguruan tinggi, litbang, dan pelaku industri harus masuk dalam ekosistem, agar program ini tidak hanya padat karya, tetapi juga adaptif dan efisien.
“Kita butuh lompatan, bukan sekadar perbaikan kecil,” sambungnya.
