WARTABANJAR.COM – Puasa Arafah dilaksanakan pada 9 Zulhijah memiliki keutamaan luar biasa sebagaimana yang diterangkan dalam sabda Rasulullah SAW.
Seorang Muslim dapat meraih ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu dan yang akan datang.
Keutamaan puasa Arafah telah dijelaskan dalam beberapa hadis Nabi Muhammad SAW. Salah satu riwayat yang masyhur adalah dari Abu Qatadah Al-Anshari Ra.
Baca Juga
Amalan Sunnah di Hari Arafah, Puasa dan Baca Al Ikhlas 1000 Kali
عَنْ أَبِى قَتَادَةَ الأَنْصَارِىِّ رَضِىَ الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ … صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ …[رواه الجماعة إلا البخارى والترمذى]
“Dari Abu Qatadah (diriwayatkan) bahwa Rasulullah SAW ditanya … tentang puasa hari Arafah, lalu beliau menjawab: (Puasa hari Arafah itu) menghapus dosa-dosa satu tahun lalu dan satu tahun yang akan datang…” [HR jemaah ahli hadis kecuali al-Bukhari dan at-Tirmidzi].
Hadis ini menegaskan bahwa puasa Arafah memiliki keistimewaan luar biasa, yakni menghapus dosa-dosa kecil selama dua tahun—setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.
Hal ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah SWT kepada hamba-Nya yang berusaha mendekatkan diri melalui amalan sunnah ini.
Namun, penting untuk memahami bahwa penghapusan dosa yang dimaksud dalam hadis ini merujuk pada dosa-dosa kecil (shagha’ir), sebagaimana dijelaskan oleh Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ruslan Fariadi.
Dosa-dosa besar (kaba’ir), seperti syirik, zina, atau meninggalkan salat, tidak dapat dihapus hanya dengan puasa Arafah.

