WARTABANJAR.COM, KOTIM – Warga Desa Natai Baru, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng) dikejutkan oleh penemuan seekor buaya yang telah mati terperangkap dalam perangkap ikan milik mereka. Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, menegaskan bahwa laporan awal berasal dari Anggota Polsek Sungai Sampit, Aipda Nopthi Hidayat. “Saat ditemukan, buaya sudah mati, berbau busuk, dan kemudian dikuburkan warga,” ujar Muriansyah, Jumat (2/5/2025). BACA JUGA:TERBONGKAR! Aksi Ibu-Ibu Berulang Kali Curi Sayur di Katingan, Terong hingga Cabai Dijual Murah Peristiwa bermula ketika warga memasang perangkap ikan di aliran sungai dekat permukiman mereka. Bukannya ikan, perangkap itu malah menjerat seekor buaya dewasa yang selama ini menjadi predator sungai dan sumber kekhawatiran penduduk setempat. Setelah dievakuasi, warga lantas mengubur bangkai buaya karena kondisinya sudah tidak layak untuk dipindahkan. Belum ada keterangan resmi mengenai jenis atau panjang buaya tersebut, namun masyarakat diimbau lebih waspada dan segera melapor jika menemukan jejak hewan liar di sekitar permukiman. Muriansyah menambahkan bahwa kasus ini menunjukkan pentingnya sinergi antara masyarakat dan petugas konservasi, agar potensi bahaya satwa liar dapat diminimalisir tanpa menimbulkan korban jiwa manusia maupun hewan. Latar Belakang Kehadiran Buaya di Kotawaringin Timur Spesies Umum: Di Kotim banyak ditemukan buaya muara (Crocodylus porosus), yang dapat hidup di air payau maupun tawar. Spesies ini dikenal agresif dan rentan berbaur dengan aktivitas manusia di tepian sungai. Sejarah Kontak: Sepanjang lima tahun terakhir, BKSDA mencatat setidaknya 15–20 insiden buaya menyerang perahu atau petani di tepian sungai Mentaya, sebagian besar terjadi saat pagi dan sore hari. Penyebab Meningkatnya Interaksi: Pembukaan lahan dan penurunan kawasan hutan bakau memaksa buaya mencari makanan lebih dekat ke permukiman. Penangkapan ikan berlebihan membuat buaya kelaparan dan memasang perangkap di area jaring warga. Kronologi Penemuan Buaya Terperangkap Pemasangan Perangkap: Warga memasang jaring tradisional di aliran sungai dekat permukiman untuk menangkap ikan. Penemuan: Saat memeriksa jaring sekitar pukul 04.00 WIB, warga terkejut melihat seekor buaya dewasa tanpa tanda-tanda kehidupan. Penanganan Awal: Karena sudah membusuk, warga memutuskan mengubur bangkai buaya di pinggir sungai untuk mencegah bau dan gangguan kesehatan. Konfirmasi BKSDA: Tim konservasi menerima laporan dan mencatat insiden sebagai bagian dari pemantauan populasi buaya di Kotim. Tips Keamanan Saat Beraktivitas di Sungai Untuk meminimalkan risiko pertemuan berbahaya dengan buaya, ikuti langkah-langkah berikut: Hindari Memancing/Mencuci Pakaian di Senja atau Dini Hari Buaya aktif mencari mangsa saat cahaya rendah; pilih waktu siang untuk beraktivitas di tepi air. Jaga Jarak Minimal 10 Meter dari Tepi Sungai Jangan terlalu dekat dengan permukaan air, terutama di area dengan vegetasi tebal. Pasang Penerangan Sederhana Lampu senter atau lampu tunggal di area operasi dapat mengusir buaya yang sensitif terhadap cahaya. Bekerja dalam Kelompok Aktivitas ramai lebih aman; buaya jarang menyerang kelompok besar. Laporkan Segera ke BKSDA atau Polsek Terdekat Jika menemukan jejak tapak, sarang, atau buaya kawin di daerah permukiman, segera koordinasi untuk penanganan profesional. BACA JUGA:GILA! Segel Pemkot Surabaya Dirusak! Gudang CV Sentosa Seal Tetap Beroperasi, Netizen: “Uang Adalah Segalanya” Penegasan BKSDA dan Harapan Warga Muriansyah menekankan perlunya sinergi antara warga dan petugas konservasi: “Kita dorong warga untuk melaporkan temuan buaya hidup maupun mati, sehingga kami dapat memantau populasi dan mencegah konflik manusia–satwa.” Warga Desa Natai Baru kini diimbau tetap waspada dan mematuhi protokol keamanan di atas. Dengan memahami latar belakang ekologis dan menerapkan langkah antisipasi, diharapkan aktivitas di sungai Kotim dapat berjalan aman tanpa menimbulkan korban jiwa atau kerugian materi.(Wartabanjar.com/redaksiborneonews) editor: nur muhammad