WARTABANJAR.COM, PELAIHARI- Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk menjadi momen sakral memperingati 49 tahun kedatangan warga transmigran di Desa Batu Ampar, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut.
Pertunjukan wayang berjudul Lahire Wisanggeni tersebut berlangsung meriah di Lapangan Desa Batu Ampar, Sabtu (26/4/2025).
Wakil Bupati Tanah Laut (Wabup Tala), H.M. Zazuli (H. Uli) dalam sambutannya menyampaikan bahwa pagelaran wayang kulit bukan sekadar hiburan biasa, melainkan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang telah menjadi bagian penting dari identitas bangsa Indonesia.
“Wayang tidak sekadar tontonan, melainkan banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik, selain itu, dengan adanya pagelaran ini menjadi bentuk pelestarian nilai-nilai budaya,” ucap H. Uli.
Ia menambahkan, 49 tahun silam, di tempat inilah awal mula perjuangan warga transmigrasi bermula, membawa harapan baru, semangat membangun kehidupan dari titik nol, berlandaskan kerja keras, gotong royong, serta keyakinan akan masa depan yang lebih baik.
Kini, hasil perjuangan tersebut tampak nyata, yaitu Desa Batu Ampar telah berkembang menjadi daerah yang maju, harmonis, dan berkontribusi besar dalam pembangunan Bumi Tuntung Pandang.
“Lakon ‘Lahire Wisanggeni‘ mengisahkan kelahiran tokoh yang penuh keberanian, keteguhan, dan kebenaran, menjadi sebuah refleksi nilai-nilai luhur yang sejalan dengan semangat para pendahulu kita dalam membangun Desa Batu Ampar hingga menjadi yang kita rasakan saat ini,” tuturnya.







