WARTABANJAR.COM, BATULICIN — Di tengah geliat ekonomi Muara Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, tersimpan ironi yang memilukan: jalan utama yang menjadi tulang punggung aktivitas masyarakat dan perekonomian justru rusak parah, tanpa perbaikan selama bertahun-tahun.
Saat musim hujan, jalan berubah menjadi lautan lumpur licin seperti kubangan. Ketika kemarau tiba, debu tebal membumbung hingga mengganggu pernapasan. Kondisi ini membuat warga menyebut jalan tersebut sebagai “jalur siksaan”, terlebih bagi ambulans yang membawa pasien dalam kondisi darurat.
“Pasien terguncang hebat di sepanjang perjalanan. Ini bukan lagi layanan kesehatan, tapi bentuk penyiksaan yang dilegalkan!” ujar seorang warga dengan nada kesal, Rabu (23/4/2025).
Akses Vital yang Terabaikan
Mirisnya, Muara Satui bukanlah daerah terisolasi. Kawasan ini merupakan pusat aktivitas pertambangan, pelabuhan, dan perdagangan yang menjadi salah satu penopang utama perekonomian Tanah Bumbu. Namun, kondisi akses jalan yang rusak berat bak lintasan off-road justru menjadi pemandangan sehari-hari.
“Kami tidak butuh janji politik. Yang kami harapkan hanya satu: perbaikan jalan ini — demi keselamatan dan martabat kami sebagai warga negara!” tegas seorang warga lainnya.
BACA JUGA:5 SMK di Kalsel Terapkan Pembelajaran 4 Tahun, Ada Jurusan Geologi Pertambangan
Rasa kecewa dan frustasi masyarakat semakin menumpuk. Mereka menuntut langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu, bukan hanya retorika manis yang terpampang di baliho atau pidato seremonial.







