“Kami ingin menyuarakan bahwa perempuan dan alam adalah dua pilar utama peradaban. Teater kami tempatkan sebagai ruang kontemplasi sekaligus ajakan untuk kembali merawat keduanya,” ujar Juliansyah, Selasa (22/4).
Ia juga menegaskan bahwa tema tahun ini dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai kehidupan yang berakar dari ibu dan bumi.
“Bumi melahirkan pangan, ibu melahirkan generasi. Teater kami hadir sebagai pengingat atas sumber kehidupan itu,” tambahnya.
Tidak hanya pementasan, acara ini juga dirangkai dengan sarasehan seni yang menghadirkan pelaku seni, pengamat budaya, akademisi, dan generasi muda.
Diskusi tersebut akan menjadi ajang bertukar ide dan gagasan dalam rangka memperkuat ekosistem kebudayaan di Balangan.
“Kami ingin mendorong dialog yang lebih luas, bukan hanya tentang seni tapi juga soal tanggung jawab kita terhadap warisan budaya dan lingkungan,” ungkap Juliansyah.(Alfi)
Editor Restu







