VIRAL Pengakuan Sedih Eks Pemain Sirkus OCI: Disetrum, Dirantai, KemenHAM Siap Mengusut!

WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Sebuah video di media sosial Instagram memperlihatkan sejumlah mantan pemain sirkus dari Oriental Circus Indonesia (OCI) mengungkapkan pengalaman kelam mereka selama bertahun-tahun bekerja sebagai penampil.

Dalam audiensi dengan Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Mugiyanto, pada Selasa (15/4/2025), mereka menceritakan dugaan kekerasan fisik, eksploitasi, dan perlakuan tidak manusiawi yang dialami.​

Salah satu mantan pemain, Butet, mengisahkan bahwa ia pernah dirantai menggunakan rantai gajah di kakinya, sehingga kesulitan untuk buang air. Ia juga mengaku dipaksa tampil saat hamil dan dipisahkan dari anaknya setelah melahirkan. Selain itu, Butet mengungkapkan bahwa ia pernah dijejali kotoran gajah sebagai hukuman karena mengambil daging empal.​

Fifi, anak Butet, juga mengalami perlakuan serupa. Ia mengaku diseret, disetrum di bagian kemaluan hingga lemas, rambutnya ditarik, dan dipasung. Ida, mantan pemain lainnya, menceritakan bahwa setelah mengalami kecelakaan saat tampil di Lampung, ia tidak segera mendapatkan pertolongan medis dan baru dibawa ke rumah sakit setelah mengalami pembengkakan di pinggang.​

Menanggapi pengakuan tersebut, Kementerian HAM akan memanggil pihak-pihak terkait untuk klarifikasi dan pengambilan tindakan yang tepat guna memastikan pemenuhan hak korban serta mencegah terulangnya kasus serupa. Kuasa hukum para korban, Muhammad Sholeh, mendorong pemerintah untuk membentuk tim pencari fakta guna mengusut tuntas dugaan pelanggaran HAM ini.​

BACA JUGA:DETIK-DETIK Ban Pesawat Garuda Copot Terekam Kamera Penumpang saat Mendarat di Tanjungpinang

Sementara itu, pihak Taman Safari Indonesia menegaskan bahwa mereka tidak memiliki keterkaitan, hubungan bisnis, maupun keterlibatan hukum dengan eks pemain sirkus yang disebutkan dalam forum tersebut. Komisaris Taman Safari Indonesia, Tony Sumampouw, membantah adanya eksploitasi terhadap mantan pemain sirkus OCI dan menyatakan bahwa kasus ini tidak ada kaitannya dengan Taman Safari.​

Kasus ini menjadi sorotan publik dan memicu diskusi luas di media sosial mengenai perlindungan hak asasi manusia, terutama bagi pekerja seni pertunjukan.