Bunda Corla Enggan Dijodohkan dengan ‘Walid’ Karakter Serial Bidaah, Celotehannya Bikin Ngakak Netizen

Ia membuat sekte itu dengan mengaku sebagai Imam Mahdi, juru selamat umat Islam pada akhir zaman.
Seiring waktu berjalan, Baiduri menyadari berbagai praktik menyimpang Walid dan Jihad Ummah, seperti pernikahan paksa, kepatuhan mutlak, hingga ritual-ritual penuh kontroversi.
Eksistensi Jihad Ummah mulai terganggu ketika Hambali (Fattah Amin), anak salah satu orang kepercayaan Walid, pulang dari Yaman.

Ia sadar ajaran yang dibawa Walid menyimpang dari Islam.

Hambali bersama Baiduri kemudian bekerja sama membongkar ajaran sesat Walid agar keluarga dan orang-orang di sekitarnya selamat dari praktik penyimpangan agama ini.

Bidaah diarahkan sutradara Pali Yahya dari naskah karya Eirma Fatima.

Serial yang mengusung genre religi itu terdiri dari 15 episode, berdurasi per episode sekitar 42 menit.

Serial ini dibintangi Faizal Hussein, Fattah Amin, Riena Diana, Marissa Yasmin, Vanida Imran, hingga Hasnul Rahmat.

Bidaah kemudian viral di media sosial setelah sang karakter utama, Walid Muhammad Mahdi Ilman, ramai dibicarakan netizen baik di kolom komentar berbagai unggahan hingga dijadikan parodi.

Netizen menyebut nama karakter itu dalam kalimat yang mirip, yakni “Pejamkan mata, bayangkan muka Walid.”

Kalimat seperti itu menjamur di unggahan-unggahan dengan topik berbeda, sehingga sering membingungkan pengguna lain.
Kalimat itu berasal dari sebuah adegan yang menampilkan sejumlah perempuan yang meminta kepada Walid (Faizal Hussein) agar dapat bertemu malaikat. 

Walid kemudian meminta para pengikutnya memejamkan mata, membayangkan wajahnya sambol berzikir.

Mereka dilarang berhenti berzikir jika Walid belum menyuruh stop.

Kalimat itu lantas viral hingga disebut-sebut oleh netizen di kolom komentar.

Ucapan Walid yang meminta supaya orang lain membayangkan wajahnya juga ramai dijadikan parodi oleh kreator konten.

Beberapa akun pun mengolah ulang adegan itu menjadi meme dan video lucu yang tak kalah ramai menjadi sorotan. (yayu/berbagai sumber)

Editor: Yayu