WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Utang pemerintah RI yang akan jatuh tempo tahun ini dengan jumlah mencapai ratusan triliun membuat investor asing menahan aliran modal.
Investor cenderung menahan aliran modal ke pasar saham Indonesia meskipun indeks harga saham gabungan (IHSG) mulai menguat.
Pengamat pasar modal, Irvin Patmadiwiria, menyebut beberapa katalis positif memang mendorong penguatan indeks dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Irvin, konsolidasi di sektor domestik, termasuk hasil rapat umum pemegang saham (RUPS) beberapa bank BUMN yang membagikan dividen besar, menjadi faktor pendukung.
Namun, ujarnya, di sisi lain, investor asing masih bersikap wait and see.
Baca juga:163 Orang Mudik ke Hulu Sungai Gunakan Bus Gratis Pemko Banjarbaru
“Capital inflow dari investor asing rasanya masih tertahan dan tidak akan berlanjut dalam jumlah signifikan. Mereka masih menunggu langkah pemerintah dalam menangani utang jatuh tempo yang tahun ini mencapai sekitar Rp 800 triliun, naik dua kali lipat dari tahun 2024 yang hanya Rp 400 triliun,” ujar Irvin dalam Investor Market Opening di Beritasatu TV dilansir Beritasatu.com, Kamis (27/3).
Selain itu, defisit keuangan negara sebesar Rp 31 triliun serta dinamika politik di Indonesia turut menjadi faktor yang membuat investor asing bersikap hati-hati.
Pasar Saham Tidak Stabil, Investor Beralih ke Obligasi Pemerintah
Irvin menekankan ketidakseimbangan antara kenaikan utang jatuh tempo dan penerimaan negara yang tidak bertumbuh sebanding menjadi tantangan besar bagi pemerintah.