“Ada area mengalami locking, terkunci mestinya bergerak tapi dia terkunci. Yang terkunci itu menyebabkan akumulasi energi, kalau energinya sudah besar kuncinya tidak kuat maka energinya lepas di situlah muncul megathrust,” ujarnya.
Dilaporkan Beritasatu.com sebelumnya, di Pulau Jawa, tepatnya di Samudra Hindia Selatan Jawa terdapat 3 segmentasi megathrust, yaitu Segmen Jawa Timur, Segmen Jawa Tengah-Jawa Barat, dan Segmen Banten-Selat Sunda.
Dari ketiga segmen megathrust ini memiliki magnitudo tertarget M 8,7.
Namun, jika skenario model dibuat dengan asumsi 2 segmen megathrust yang “bergerak” secara simultan maka magnitudo gempa yang dihasilkan bisa lebih besar dari M 8,7. (berbagai sumber)
Editor: Erna Djedi