Manager ULTG Banjar Aditya Lanang Estu menjelaskan, pada sambungan tersebut ditemukan titik panas (hotspot) yang merupakan kondisi anomali pada peralatan instalasi tenaga listrik yang disebabkan oleh adanya residu pada sambungan ataupun kurang rapatnya baut pada sambungan.
“Hotspot diketahui melalui monitoring thermovisi yang dilakukan oleh operator GI pada pukul 21.00 WITA (14/5). Bersyukur tim kami berhasil mengidentifikasi anomali sebelum gangguan ini terjadi,” jelas Lanang
Lanang menjelaskan, perbaikan baru bisa dilakukan pagi hari karena menunggu beban puncak menurun sehingga dapat menghindari kemungkinan padam pelanggan yang meluas akibat pemeliharaan sambungan tersebut.
“Alhamdulillah pukul 09.30 wita pekerjaan telah selesai lebih cepat dengan menggunakan metode Rope Access. Ini merupakan metode yang telah menjadi best practice dalam beberapa kegiatan pemeliharaan kami,” jelasnya. (rls)
Baca Juga : Wujudkan Smart City, PLN Siapkan Jaringan Listrik Terintegrasi Digital
Editor : Hasby