WARTABANJAR.COM, SURABAYA - Siapa yang tak kenal Khong Guan, biskuit yang sejak jaman kanak-kanak dulu hingga kini masih saja viral. Biskuit yang kalengnya bergambar seorang ibu bersama kedua anaknya duduk di meja menikmati makanan ringan ditemani minuman ala eropa. Setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri, Khong Guan selalu diburu untuk suguhan para tamu yang datang berhalal bihalal ke rumah. Selain harganya yang terjangkau, aneka ragam jenisnya dalam satu kaleng bisa menjadi jamuan sederhana. Dan sudah bisa ditebak, banyak pertanyaan seputar biskuit Khong Guan, mulai dari sosok sang ayah yang tidak terlihat di gambar kalengnya hingga candaan kaleng Khong Guan isi Rengginang, makanan tradisional dari nasi ketan yang digoreng. Bahkan, di Surabaya ada yang namanya Tugu Khong Guan, persisnya di atas pos 25 perlintasan kereta api Jalan AhmadYani. Tugu tersebut sudah ada sejak sebelum tahun 1980an. Tak heran jika banyak yang mengira biskuit Khong Guan berasal dari Surabaya. Baca juga: Legenda Tinju Mike Tyson Akan Bertarung Lagi? Simak Lawan dan Cara Nontonnya ini Seperti dikutip Wartabanjar.com, Syafii, seorang tukang tambal di sekitar lokasi tersebut mengaku telah membuka lapak di sana sejak 1986. Sejak berada di sana, tugu Khong Guan sudah ada di sana. Sebelum membahasnya lebih jauh, alangkah baiknya kita mengetahui sejarah Khong Guan. Bagaimana bisa biskuit itu menjadi viral sejak bertahun-tahun lamanya. Khong Guan Berasal dari Singapura Biskuit Khong Guan sebenarnya bermula dari usaha dua bersaudara, Chew Choo Keng dan Chew Choo Han, imigran dari Fujian, Tiongkok yang pindah ke Singapura pada tahun 1935. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka berdua bekerja di pabrik biskuit lokal di sana. Namun 7 tahun kemudian, tepatnya pada 1940 mereka harus mengungsi ke Perak, Malaysia, lantaran invasi Jepang ke Singapura. Baca juga: BREAKING NEWS: Laka Lantas Dekat Pasar Batuah Banjarmasin, Korban Berlumuran Darah Pada masa itu kehidupan keduanya cukup sulit di Malaysia. Keduanya terpaksa berjualan biskuit buatan sendiri sampai pasokan gula dan tepung menjadi langka. Akibatnya, mereka harus beralih profesi menjadi penjual garam dan sabun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untungnya pada 1945 Jepang hengkang dari Singapura setelah kedua kotanya, Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh sekutu. Akhirnya kedua bersaudara ini memutuskan kembali ke Singapura. Berkat dukungan keluarga, mereka memutuskan kembali menjual biskuit. Apalagi setelah Han menemukan beberapa mesin pembuat biskuit tua yang rusak akibat perang, yang dijual sebagai barang bekas dari pabrik lama tempat mereka kerja. Dia pun segera membeli dan memperbaikinya. Han kemudian memasang jalur produksi biskuit semi-otomatis menggunakan rantai sepeda untuk memindahkan biskuit pada sistem konveyor melalui oven bata. Baca juga: Ketentuan, Penerima, Syarat dan Cara Menghitung Zakat Maal Menurut Ajaran Islam Dua tahun kemudian atau pada 1947, Han dan Keng bersaudara nekat mendirikan pabrik pertamanya yang berlokasi di Jalan 18 Howard. Pabrik inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Biskuit Khong Guan. Pabrik itu resmi berdiri dengan nama Khong Guan Biscuit Factory (Singapore) Pte Ltd. Berkat militansi keduanya dalam berbisnis, sekitar tahun 1950 hingga 1960 an, mereka sampai melakukan ekspansi ke Malaysia. Jika pabrik di Singapura menghasilkan 10.000 kaleng biskuit setiap harinya dan memiliki sekitar 200 pegawai, di Malaysia pabriknya meghasilkan 40.000 kaleng biskuit setiap hari dan memiliki 1000 karyawan. Sekitar 70 persen produknya dijual di Singapura dan Malaysia. Sisanya dijual ke berbagai negara seperti Indonesia, Hong Kong, Africa, dan Timur Tengah. Baca juga: Jaga Keamanan Mudik Lebaran 2024, Pospam dan Posyan Polresta Kotabaru Telah Dibuka Lantaran antusiasme konsumen yang begitu tinggi, pada 1970 pabrik di Singapura mereka pindahkan ke lokasi yang lebih besar. Pabriknya akhirnya pindah ke Jurong, Singapura. Keduanya juga membangun pabrik di Indonesia, tepatnya di Kawasan Rungkut, Kota Surabaya. Tak cukup sampai di situ, keduanya juga membangun pabrik lagi di Jalan Raya Bogor Jakarta Timur dan Cibinong, Bogor. Lalu pada sekitar tahun 1980an, Khong Guan melakukan ekspor ke negara lain seperti Jepang dan Amerika Serikat. Sejak saat itu, perusahaan ini sudah mengekspor produknya ke lebih dari 40 negara. Namun pada 2001, Chew Choo Keng meninggal dunia di usia 86 tahun. Saat kematiannya itu, pabrik biskuit yang didirikannya telah menjadi perhatian multinasional dengan pabrik dan perusahaan asosiasi di Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, Hong Kong, Tiongkok, dan Amerika Serikat. Hingga pada Januari 2007, saudara seperjuangannya Chew Choo Han memutuskan untuk pensiun sebelum meninggal pada bulan November. Baca juga: Keren! Film Badarawuhi di Desa Penari Tayang Perdana di Amerika Serikat Akhirnya bisnis kedua bersaudara itu dilanjutkan oleh anak-anaknya. Meski demikian, Khong Guan tetap berkomitmen menyediakan biskuit yang berkualitas hingga kini. Buktinya, biskuit ini selalu menjadi kegemaran masyarakat Indonesia. (bersambung) Editor: Sidik Purwoko (berbagai sumber)