Selanjutnya karena alasan personal problem yang orang lain tidak bisa pahami.
Love and belonging needs seseorang cukup besar sehingga apabila tidak atau kurang terpenuhi dapat memicu keinginan bunuh diri.
“Kebutuhan itu harus terpenuhi, karena ketika mereka tidak merasa dicintai dan kepemilikan tidak terpenuhi maka akan menimbulkan stress, yang bisa berujung pada keinginan suicide,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Sekjen Konsorsium Pekerja Sosial Indonesia, Nurul Eka Hidayati mengungkapkan, terdapat aspek psikososial yang mempengaruhi kesehatan jiwa dan resiko bunuh diri pada remaja.
Baca juga: Remaja Pamer Kelamin ke Siswi SMP di Depok Ditangkap, Sudah 17 Kali Beraksi
Aspek-aspek tersebut antara lain masalah kesehatan jiwa yang sudah dimiliki sebelumnya; disabilitias; umur; jenis kelamin; gender expression dan sexual orientation; etnik atau ras; kekerasan fisik psikologis, dan seksual; pekerjaan dan pengangguran; pendidikan; substance abuse; disfungsi keluarga; spiritual dan religion; media sosial/internet; lack of social support; minority; oppression; discrimination and prejudice.
Senada dengan hal tersebut, Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, Diana Setiyawati menyebutkkan terdapat dua kebutuhan psikologis pada remaja yang harus dipenuhi yaitu belongingness dan relationship.
Sehingga untuk meningkatkan kesehatan jiwa pada remaja membutuhkan dua peran penting yaitu keluarga dan sekolah.
“Remaja yang sehat itu dia engage dengan kehidupan akademik. Merasa aman secara fisik dan emosi, konsep diri dan efikasi dirinya positif, memiliki kemampuan menarik kesimpulan, dan tentu saja sehat fisik dan mentalnya,” jelas Diana.