Ada kualifikasi yang harus dipenuhi demi keamanan masyarakat Indonesia.
“Untuk beras itu sendiri memang kita sangat ketat dalam pengambilan sampel beras dan lain-lain, ini termasuk beras impor. Jadi kalau ada isu-isu beras plastik, itu kan mahal, jadi itu sudah terlalu konyol juga, itu memang benar-benar tidak mungkin,” ujarnya.
Tak hanya itu, Febby mengungkap penyerapan dari dalam negeri juga sulit karena harga gabah saat ini melonjak tajam.
“Persyaratan yang mungkin saat ini memang masih kita pegang untuk pengadaan gabah dan beras dalam negeri. Karena tadi belinya masih maksimal itu hanya Rp5.000 untuk beras CBP (cadangan beras pemerintah) itu sendiri dengan ketentuan (kadar air maksimal 25), jadi isunya di harga dimana harga itu sekarang udah terbang harga GKP (gabah kering panen)-nya,” ucap Febby.
Febby menambahkan harga gabah saat ini melonjak ke angka Rp7.500 per kilogram (kg).
Jika gabah dikonversikan jadi beras, harganya akan tinggi di atas Rp12 ribu per kg untuk jenis medium, sementara harga eceran tertinggi (HET) beras Rp10.900 per kg.
“Sedangkan beras di gudang bulog yang kita harus jual sekarang adalah di pintu gudang Rp9.950 (per kg). Tapi source-nya memang kita terus terang saja, sekarang enggak bisa dari dalam negeri, kita memang sekarang banyak mendapatkan beras dari luar negeri,” pungkasnya. (berbagai sumber)
Editor: Yayu







