Seolah, kehidupan makhluk Allah, seperti matahari dan bulan tidak akan tenang jika tidak melakukan ibadah. Sebaliknya ia sangat bersedih jika tidak beribadah.
Dampaknya, cahaya bulan akan semakin redup, surut dan semakin hilang dari pandangan setiap malam. Namun, jika waktu ibadah sudah dekat, ia sangat bahagia, tenang dan nyaman.
Akibatnya, cahayanya semakin terang, sampai pada puncak paling sempurna yaitu malam tanggal 15 saat purnama. Berbeda dengan manusia, ibadah seakan tidak memberi dampak apapun.
Bagi mereka, ibadah sekadar kegiatan rutinitas biasa yang dilakukan karena kewajiban belaka, bukan karena adanya dorongan untuk mendekatkan diri kepada Yang Mahakuasa.
Bukti bahwa semua makhluk Allah melakukan sujud kepada-Nya adalah sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ (الحج: 18)
“Tidakkah Engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah; juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan melata dan banyak di antara manusia? Tetapi banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab.” (QS Al-Hajj: 18).
Pada ayat di atas Allah menjelaskan bahwa semua yang ada di muka bumi melakukan sujud kepada Allah sesuai cara yang diperintahkan kepadanya. Sujud satu makhluk dengan makhluk lain tidak sama.
Adapun maksud ‘bersujud’ pada ayat adalah sebagaimana disampaikan oleh Sayyid Thanthawi, yaitu, ketundukan dan kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya, sebagaimana ketundukan orang yang sedang bersujud. (Sayyid Muhammad Thanthawi, Tafsîrul Wasîth, [Beirut-Mesir, Dârun Nahdhah: 2005], juz I, halaman 4040).(kemenag)
Editor Restu







