Melalui hape Pua Bela, Gusti Gina berbicara langsung dengan warga Saranjana.
“Aku akhirnya disuruh ngobrol langsung dengan orang saranjana via telepon. Bingung gak sih lo ! Tapi ya kuangkat. Terdengar suara perempuan berbahasa Indonesia. Bahasanya baku, lemah lembut, dan tidak ada terdengar logat kedaerahannya sebagai orang kalimantan. Menurutku.”
“Gina, kamu mau melihat kota saranjana ?” tanya dia diseberang telpon.
“Iya. Boleh ?” tanyaku balik.
“Dia memintaku mengembalikan hape kepada Pua Bela. Dia pun meminta Pua Bela berfoto denganku dan mengirimkan fotonya ke “saranjana” untuk laporan bahwa ada manusia yang mau masuk. Oh waw, kataku dalam hati.”
Tak hanya Pua Bela, Gusti Gina juga bertemu dengan juru kunci lainnya untuk mengetahui mengenai Kota Saranjana.
“Detail perjalananku ini sangat panjang sebenarnya. Ini hanya sedikit gambaran isi bukuku. masih ada wawancara dengan 2 juru kunci saranjana, yang jauh lebih sepuh dari Pua Bela. Nenek Saniah dan Kai Ganna.”
Sang penulis yang berasal dari Banjarmasin ini pun akan mengisahkan pencarian mengenai Kota Saranjana dalam sebuah buku.
Ia pun menuliskan pembelian buku Kota Saranjana bisa dipesan melalui marketplace : LINK.
Editor Restu







