Dalam kelompok teman terkadang terdapat tokoh yang memiliki kekuasan dan mendominasi teman-temannya untuk mempengaruhi perilaku anggota kelompok lain agar mengikuti pola perilaku dari teman yang mengarah kepada perilaku kekerasan.
“Memang apabila tidak terlibat dalam aktifitas yang sama dalam kelompok ada ketakutan akan kehilangan teman atau terancam tidak diterima dalam kelompoknya,terutama pada anak-anak yang memiliki keterampilan sosial yang rendah” tambah Melinda.
Melinda yang juga Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Kalsel pun mengingatkan, agar para orang tua memberitahu anaknya untuk tetap berjaga diri karena kebutuhan anak untuk berkumpul dalam suatu kelompok pertemanan adalah salah satu bentuk untuk menujukan eksistensi diri.
“Mereka memang cenderung memilih kelompok yang memiliki minat sama dan mengikuti nilai-nilai yang terbentuk dalam kelompok itu sehingga anak terkadang kurang menelaah nilai-nilai yang ada pada kelompok itu, apakah menentang aturan atau tidak karena yang dibutuhkan adalah penerimaan dari temannya,” kata Melinda.
“Maka dari itu, dalam menangani anak yang terlibat dalam perilaku kekerasan diperlukan penanganan dengan family therapy dan psikoterapi yang melibatkan orang tua hingga tenaga profesional, yaitu psikolog untuk bersama-sama membantu anak dalam membentuk perilaku positif dengan mengembangkan empati dan menggali potensi diri agar dapat berperilaku adaptif di lingkungan sosial,” tandasnya. (MC Kalsel)
Editor Restu







