Pulau Penyengat Digadang-gadang Jadi Pusat Studi Budaya Melayu Islam Sedunia

“Saya akan dorong terus dan karena sudah menjadi bagian dari ADWI. Ini menjadi kewajiban pemerintah pusat juga untuk bersama-sama berkolaborasi. Dan juga nanti kita akan tambahkan dunia usaha yang kita akan undang untuk ikut membangun kebersamaan di Desa Wisata Pulau Penyengat ini,” kata Sandiaga.

“Karena target kita adalah penciptaan 4,4 juta lapangan kerja baru dan di sini (Pulau Penyengat) 2.400 masyarakatnya kita harapkan bisa meningkat kesejahteraannya,” katanya.

Gubernur Provinsi Kepulauan Riau Ansar Ahmad menjelaskan ada beberapa hal yang perlu dibenahi di Desa Wisata Pulau Penyengat.

Di antaranya terkait pilot project sepeda listrik yang akan dihadirkan di Desa Wisata Pulau Penyengat.

Di mana jalan sekitaran desa ada beberapa titik yang menanjak. Hal ini perlu ditindak lebih lanjut agar fasilitas ini dapat berjalan secara optimal.

“Selain itu kita juga akan tambahkan lampu gemerlap di Penyengat ini. Supaya Penyengat tidak hanya dikunjungi orang di siang hari tapi juga di malam hari,” kata Ansar Ahmad.

“Insyaallah pelan-pelan kita akan dorong Pulau Penyengat ini bukan hanya menjadi kawasan wisata andalan tetapi kawasan multifungsi seperti kawasan zero carbon, kawasan heritage, kawasan wisata religi, kemudian wisata menulis,” ujarnya.

“Sejarah kerajaan di masa lalu kekuatan para pejuang Pulau Penyengat ini karena tulisan pena-nya, makanya muncul Gurindam Dua Belas dan banyak sekali kitab-kitab andalan yang sudah kita amankan dan mulai kita digitalisasi supaya tidak rusak,” lanjut dia.

Turut mendampingi Menparekraf Sandiaga, Staf Khusus Menparekraf, Staf Khusus Menparekraf Bidang Akuntabilitas, Pengawasan, Reformasi, dan Birokrasi Kemenparekraf/Baparekraf, Irjen Pol Krisnandi; Direktur Tata Kelola Destinasi Kemenparekraf/Baparekraf, Indra Ni Tua. Hadir pula Plt. Kadispar Provinsi Kepulauan Riau, Luki Zaiman Prawira. (edj/rls)

Editor: Erna Djedi