WARTABANJAR.COM – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui bahwa negaranya tengah berada di ambang perang saudara setelah demo besar-besaran pecah di beberapa wilayah.
Sejumlah menteri hingga eks pejabat juga mengatakan ada ancaman perang saudara dalam rencana perombakan sistem peradilan yang mau disahkan Netanyahu ini.
Mantan kepala Angkatan Udara Israel Eitan Ben-Eliahu, misalnya, yang mengatakan bahwa sang PM seolah “menyatakan perang saudara” melalui rencana reformasi sistem peradilannya, seperti dikutip The Times of Israel.
BACA JUGA: 13 Warga Palestina Tewas dan Ribuan Terusir dari Rumah Mereka Dalam Serbuan Pasukan Israel ke Jenin
Dari sekadar isapan jempol, kini isu perang saudara itu kian santer, sampai-sampai jajak pendapat teranyar menunjukkan 67 persen warga Israel takut perang saudara pecah.
Demo Israel Berlanjut, Warga ‘Ngamuk’ Tolak Reformasi Peradilan
Angka itu terungkap dalam survei Channel 12 pekan lalu. Berdasarkan riset itu, hanya 29 persen responden yang tak khawatir perang, sementara 4 persen lainnya mengaku tak tahu.
Isu perang saudara memang sudah berembus sejak awal tahun ini, sejak pemerintah ngotot meloloskan undang-undang untuk merombak sistem peradilan.
Melalui perubahan itu, Netanyahu berencana memberikan kendali lebih banyak kepada politikus, sementara wewenang Mahkamah Agung dikerdilkan.
Sebagaimana diberitakan CNN, Netanyahu dan para pendukungnya berdalih bahwa saat ini, Mahkamah Agung sudah menjadi institusi yang berisi para elite dan tak mewakili kepentingan rakyat.
Namun, sebagian warga lainnya menolak amandemen itu. Menurut mereka, perombakan sistem peradilan itu mencoreng demokrasi Israel.
Rencana perombakan ini pun memicu gelombang unjuk rasa dari segala kalangan. Sejumlah warga menolak rencana perombakan sistem peradilan yang digagas Netanyahu, tapi sebagian lainnya mendukung pemerintah.
Massa pendukung dan penolak rencana pemerintah itu terkadang bertemu di satu titik. Kericuhan pun tak terhindarkan.
Di tengah kerusuhan yang terus membara, sejumlah pejabat Israel memperingatkan Netanyahu bahwa situasi di Israel dapat berubah menjadi perang saudara dengan cepat.
Netanyahu sendiri akhirnya mengakui bahwa Israel memang sudah di ambang perang saudara. Ia lantas memutuskan untuk menunda pembahasan reformasi sistem peradilan tersebut.
“
Saya katakan sekarang, tidak boleh ada perang saudara. Masyarakat Israel berada di jalur persinggungan yang berbahaya. Kita berada di tengah krisis yang membahayakan persatuan dasar di antara kita,” ujar Netanyahu, seperti dikutip Times of Israel.
“Saya menyadari ketegangan luar biasa yang terbangun antara kedua belah pihak, antara dua bagian bangsa, dan saya memperhatikan keinginan banyak warga negara untuk menghilangkan ketegangan ini,” kata Netanyahu.
Walau menunda pembahasan, Netanyahu menegaskan bahwa reformasi itu bakal tetap disahkan. Menurutnya, reformasi tetap mesti dilakukan demi “memulihkan keseimbangan” yang sudah hilang di pemerintah Israel.
Merasa aspirasinya tak didengarkan, kubu penentang reformasi tetap turun ke jalan. Kubu pendukung Netanyahu pun makin getol melawan para demonstran.
BACA JUGA: Beredar Video Tentara Israel Serbu Rumah Warga Palestina, Terdengar Teriakan Wanita dan Anak-anak
The Jerusalem Post melaporkan ketegangan kian tinggi pada akhir pekan lalu. Di ruas-ruas jalan, para demonstran terlihat meneriakkan slogan-slogan pro-demokrasi dari balik barikade besi.
Di seberang mereka, terlihat massa pendukung Netanyahu meneriakkan slogan-slogan penyulut emosi seperti, “Pengkhianat!”
“Kengerian ledakan beracun yang mencuat dari pasukan pro-pemerintah semakin nyata dan dekat. Dari pengamatan pada Sabtu malam, tampaknya hanya tinggal waktu hingga terjadi pertumpahan darah di jalanan,” demikian kutipan artikel opini di The Jerusalem Post.(wartabanjar.com/berbagai sumber)
editor : didik tm
Israel di Ambang Perang Saudara







