Granat Tangan Zaman Perang Salib Ini Terbuat dari Tanah Liat Tapi Sanggup Hancurkan Kapal, Kok Bisa!

WARTABANJAR.COM – Sebuah koleksi artefak yang mengesankan milik pribadi baru-baru ini diserahkan kepada Israel Antiquities Authority (IAA). Salah satu artefak adalah granat tangan berusia 1.000 tahun yang digunakan pasukan Islam dalam Perang Salib.

Benda-benda antic ini dikumpulkan sejak tahun 1973 oleh Marcel Mazliah dari Hadera, sebuah kota di pantai Mediterania Israel. Bekerja di stasiun listrik Orot Rabin, pria itu menemukan sebagian besar barang-barang di laut yang tenggelam bersama kapal.

Setelah kematiannya, keluarga Mazliah menghubungi IAA dan menyerahkan koleksi harta karun arkeologi tersebut.

BACA JUGA: Aksi Joo Won Jadi Pencuri Benda Purbakala Korea di Poster Drakor Stealer: The Treasure Keeper

Dilansir dari IFL Science, Marcel Mazliah adalah seorang pekerja di pembangkit listrik Hadera di pantai Mediterania Israel.

Granat tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-11. Bahan peledak itu mampu menghancurkan seluruh kapal.

Senjata tersebut terbuat dari tanah liat yang diembos halus dan akan diisi dengan cairan yang mudah terbakar sebelum dilempar ke korban. Cairan itu yang dikenal sebagai nafta.

Ternyata Dibuat di Suriah

Selain granat, rupanya ada artefak kuno lain yang ditemukan Mazliah. Hal ini disampaikan oleh perwakilan IAA, Ayala Lester.

“Penemuan termasuk pin toggle dan kepala pisau dari Zaman Perunggu Tengah (dari lebih dari 3.500 tahun yang lalu),” ujarnya.

Terdapat juga alu, lesung, dan tempat lilin yang diperkirakan berusia sekitar 1.000 tahun.

BACA JUGA: Berperan Ganda, Cek Aksi Joo Won Jadi PNS Sekaligus Pencuri Benda Purbakala Korea di Drakor Stealer: The Treasure Keeper

Lester mengatakan barang-barang tersebut nampaknya diproduksi di Suriah dan hendak dibawa ke Israel, namun jatuh dari kapal.

“Barang-barang itu tampaknya diproduksi di Suriah dan dibawa ke Israel. Tetapi jatuh dari kapal pedagang logam, tidak pernah terlihat lagi oleh mata manusia sampai Tuan Mazliah yang penasaran mulai menjelajahi dasar laut untuk mencari peninggalan kuno,” tambahnya.

Perang Salib sendiri dimulai pada tahun 1095 dan berlangsung hingga akhir abad ke-13, menghasilkan konsolidasi agama Kristen di bawah otoritas Paus, dan memunculkan banyak legenda yang terus mempengaruhi budaya populer saat ini.(wartabanjar.com/berbagai sumber)

editor : didik tm