“Kalau tidak mengupas rotan, mengandalkan uang pemberian anak. Dicukup-cukupin pokoknya,” ungkap Asmah.
Ia berharap, Dinas Pertanian bisa memberikan bantuan, yang bisa membuatnya berkegiatan dan bisa menghasilkan uang.
“Kalau menanam padi sudah tidak memungkinkan lagi, mungkin kami di sini bisa dibantu modalin untuk memelihara ayam atau bebek, karena lahan di sini memungkinkan untuk itu,” Harapnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh Arif Rahman (28) yang menjelaskan, karakteristik lahan pertanian di tempat tersebut adalah tanah berlumpur. Baik musim hujan maupun kemarau, dipastikan lahan tetap akan dalam, setinggi pinggang hingga dada petani.
“Sebenarnya yang petani sini perlukan adalah traktor apung, untuk membersihkan lahan sebelum ditanami, selain menghemat waktu, tentu itu juga akan lebih efektif,” jelas Arif.
Dibanding membersihkan lahan secara manual, risiko terluka akibat berjalan di dalam lumpur hingga waktu pembersihan yang sangat lama harus dihadapi para petani.
“Dulu pernah dikasih Dinas traktor biasa, kami sudah bilang kalau itu nggak bisa digunakan di lahan di sini. Kata mereka coba dulu, namun karena memang nggak sesuai keperluan, akhirnya traktornya nganggur, nggak terpakai,” pungkasnya. (Qyu)







