Komnas HAM Temukan Fakta Awal Kerusuhan Kanjuruhan: Bukan karena Suporter

    Sebaliknya, suporter yang awalnya turun ke lapangan itu hanya ingin memberikan semangat kepada para pemain yang baru saja menelan kekalahan.

    Hal itu dibuktikan oleh para pemain yang tidak mendapatkan luka atau perlakuan tidak mengenakkan dari suporter.

    “Jadi ada constraint (batasan) waktu antara 15 sampai 20 menit pasca wasit meniup peluit panjang, itu suasana masih terkendali, walaupun banyak suporter yang masuk ke lapangan,” katanya.

    Jika kemudian ada yang mengatakan bahwa suporter ke lapangan untuk menyerang pemain, maka dia bisa memastikan bahwa itu tidak benar.

    Para pemain mengaku tidak ada mendapatkan kekerasan apa pun.

    “Para pemain tidak mendapat ancaman dan caci maki, mereka cuma bilang bahwa suporter memberikan semangat kepada para pemain. Ini pemain yang ngomong begitu ke kami,” imbuhnya Komisioner Komnas HAM Bidang Pemantauan/Penyelidikan Choirul Anam saat memberi keterangan kepada awak media terkait penyelidikannya pasca tragedi yang terjadi pada pekan ke-11 Liga 1 2022-2023 seusai pertandingan bertajuk Derbi Jawa Timur, Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, Rabu (5/10/2022) malam.

    Jadi, Choirul Anam berharap penemuan awal ini bisa menjadi gambaran di awal bagi para korban dan masyarakat yang penasaran dengan hal tersebut.

    Ia justru mempertanyakan dalih aparat keamanan menembakkan gas air mata ke tribun penonton.

    “Pertanyaannya sekarang, kalau dalam 15 sampai 20 menit itu situasinya masih kondusif, apakah diperlukan gas air mata yang membuat semua penonton panik? Harus kalau tata kelola keamanan baik, tidak akan terjadi peristiwa memilukan seperti ini,” ujarnya.

    Baca Lebih Lengkapnya Instal dari Playstore WartaBanjar.com

    BERITA LAINNYA

    TERBARU HARI INI