Saat terjadinya gol, microchip pintar ini akan mengirimkan sinyal virtual ke jam tangan khusus yg dikenakan wasit utama. Tapi pemanfaatan kemajuan teknologi dalam sepak bola bukan tanpa kendala. Termasuk kendala masih mahalnya teknologi semacam itu. Sepak bola adalah permainan yang terus berkembang sesuai kemajuan zamam dan tidak akan pernah berhenti di satu titik.
Tahun lalu ketua Komite Pengembangan FIFA, Arsene Wenger, mengatakan pihaknya tengah memfinalisasi penggunaan teknologi Virtual Offside Line (VOL) yanh bisa mulai dimanfaatkan tahun 2022. Namun satu hal yang pasti bahwa posisi wasit sebagai hakim tunggal di lapangan tidak akan pernah tergantikan sekaligus memastikan harapan bagaimana korps wasit melanjutkan posisi sentralnya dalam kemajuan sepak bola secara terhormat dan bermartabat.
Mengutip wasit lengendaris Indonesia asal Sukabumi, Kosasih Kartadireja (wasit FIFA pertama Indonesia sejak 1972): “Wasit adalah pemimpin pertandingan yang harus berani mengambil keputusan tegas dan jujur dalam situasi sulit sekalipun. Agar keputusannya bisa benar, wasit harus selalu berusaha berada minimal 10 meter dari bola”.
Wasit FIFA kawakan Indonesia yang sangat berpengalaman, Jafar Umar, sambil berguyon pernah mengatakan: “Jika wasitnya memang nakal, dia bisa melakukan apa saja di lapangan”.
Penting untuk kita pahami bersama secara jernih dan bijak bahwa semua peristiwa dalam sepakbola termasuk yanh terkait persoalan integritas ataupun kealpaan wasit, terjadi di seluruh belahan dunia. Mulai dari level piala dunia sampai pertandingan antarkampung (tarkam). (edj)

