Ilmuwan Singapura Kembangkan Alat Tes COVID-19 Bisa Deteksi Segala Varian Virus Corona Dalam 15 Menit, Akurat Bak PCR, Bisa Dilakukan Sendiri

    WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN-Sebuah teknologi baru berupa alat tes rapid antigen (ART) sedang dikembangkan oleh sekelompok ilmuwan Singapura.

    Alat tersebut berbasis air liur atau saliva untuk melacak virus corona atau Covid-19.

    Mereka mengeklaim alat buatan mereka ini sama akuratnya dengan tes polymerase chain reaction (PCR) dan hasilnya sudah bisa keluar hanya dalam waktu 15 menit.

    Alat yang disebut Pasport ini memiliki tingkat akurasi 97 persen dan mampu mendeteksi berbagai varian virus Covid-19, termasuk Omicron.

    Penggunanya bahkan disebut bisa memakainya sendiri.

    Mengutip website National University of Singapore (NUS SG) dalam artikel yang diterbitkan Rabu (8/12/2021), alat uji yang menggunakan air liur itu diprediksi bisa dijual di pasaran di Singapura dalam waktu tiga bulan ke depan.

    Saliva antigen rapid test ini membutuhkan waktu 15 menit lebih untuk menunjukkan hasil paparan.

    Sementara itu, tes Covid-19 berbasis PCR saat ini membutuhkan waktu 3 jam sampai beberapa hari sebelum hasilnya keluar.

    Penemuan ini hasil kerja sama antara Duke-NUS Medical School, Singapore General Hospital (SGH), National Cancer Centre Singapore (NCCS), dan National University of Singapore (NUS).

    Danny Tng, petugas medis di Departemen Penyakit Menular di SGH dan penemu utama di balik tes tersebut, mengatakan bahwa Duke-NUS dan SingHealth juga telah menandatangani perjanjian lisensi dengan perusahaan pemasok medis Digital Life Line untuk produksi massal.

    Profesor Soo Khee Chee, Profesor Kedokteran Akademik di Program Klinis Akademik Onkologi SingHealth Duke-NUS, mengatakan bahwa tes tersebut memerlukan persetujuan dari Otoritas Ilmu Kesehatan untuk digunakan di Singapura sebelum bisa dipasarkan dalam 3-6 bulan ke depan.

    Salah satu inovasi penting dari tes saliva ini adalah dapat dilakukan kapan saja, bahkan sesaat setelah seseorang makan.

    Tes air liur yang ada saat ini belum dianggap cukup andal untuk digunakan dalam skala besar, karena konsentrasi partikel virus dalam air liur “turun drastis” setelah seseorang makan atau minum.

    Misalnya, kemampuan air liur untuk mendeteksi virus Sars-CoV-2 setelah makan adalah sekitar 11,7 persen hingga 23,1 persen.

    “Oleh karena itu, tes cepat antigen air liur biasanya hanya dapat diandalkan ketika dilakukan pertama kali di pagi hari, setelah puasa semalam dan sebelum sarapan atau menyikat gigi. Ini membuat pengujian sampel air liur di waktu lain kurang dapat diandalkan,” kata Tng.

    Seperti kebanyakan rapid test, alat tes ini menggunakan nanopartikel untuk mengikat virus, tetapi dengan perbedaan mekanisme amplifikasi tambahan yang dibangun di dalamnya sehingga menggunakan lebih banyak nanopartikel dalam pengujiannya daripada metode rapid test lain.

    Tng mengatakan ini berarti “sinyal” virus akan jauh lebih kuat terdeteksi, memungkinkan Passport mendeteksi viral load yang rendah, seperti setelah makan atau minum.

    Untuk menangkap varian virus yang mungkin menghindari deteksi melalui pengujian, para peneliti memiliki trik lain.

    Selain menggunakan antibodi yang ditempatkan pada jalur uji untuk menangkap protein virus, seperti pada kit rapid test konvensional, protein ACE2 tambahan digunakan untuk menangkap virus.

    Protein ACE2 adalah titik masuk virus corona untuk menginfeksi sel manusia.

    Hal itu karena menurut Tng varian virus dapat mengubah struktur protein yang ditargetkan. Dengan demikian dapat menghindari deteksi antibodi.

    Sementara itu, Profesor Ooi Eng Eong, dari program studi penyakit menular baru Duke-NUS, mengatakan ketika virus berevolusi menjadi lebih menular seperti Delta dan Omicron, evolusi berkaitan dengan kemampuannya untuk menginfeksi, dan kuncinya adalah melalui ACE2.

    “Jadi saat virus menjadi lebih menular, pengujian kami akan bekerja lebih baik,” pungkas Eong.

    Untuk memvalidasi hasil ini, studi klinis melibatkan lebih dari 100 peserta dilakukan di SGH.

    Studi tersebut menunjukkan bahwa sensitivitas alat tes memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi individu yang terinfeksi mencapai 97 persen.

    Sedangkan kemampuan alat ini untuk menunjukkan hasil mencapai 90,6 persen lebih baik dibandingkan dengan tes PCR.

    Tes PCR biasanya memiliki tingkat sensitivitas lebih dari 99,5 persen dan tingkat spesifisitas sekitar 100 persen.

    Baca Juga :   Kuburan Massal Prajurit Romawi Ditemukan di Bawah Lapangan Bola, Ungkap Jejak Pertempuran Abad Pertama

    Baca Lebih Lengkapnya Instal dari Playstore WartaBanjar.com

    BERITA LAINNYA

    TERBARU HARI INI