“Untuk tanaman anggur yang terdahulu, karena banjir hanya ada empat batang yang bisa diselamatkan dan sudah berbuah yang ternyata hasilnya tidak kalah dengan yang dijual di pasaran,” ungkapnya.
Setelah banjir berlalu, di lahan agro wisata Talaran Setara kembali ditanami sebanyak 200 batang anggur dan saat ini sudah mulai tumbuh subur.
“Diperkirakan pada bulan delapan nanti, anggur yang kami tanam mini sudah berbuah,” katanya.
Dia juga mengatakan, untuk bisa mengembangkan tanam anggur tersebut, pihaknya telah studi banding ke Malang, Jawa Timur (Jatim) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dikenal sebagai daerah dingin.
“Meski suhu di Malang dan Jokja dengan daerah kita berbeda, itu tidak menjadi penghalang, jenis anggur ratusan batang jumlahnya, yang saat ini dicoba dikembangkan adalah jenis Ninel, yang tampaknya cukup tahan dan bisa tumbuh subur di Batola,” jelasnya.
Dia juga mengatakan, tanam anggur, kurma dan buah tin sangat mendukung keberadaan agro wisata Talaran Setara, karena keberadaannya menjadi momen yang membuat masyarakat penasaran.
“Warga yang datang ke kawasan agro wisata Talaran Setara bisa mencapai 600 orang perhari, karena penasaran ingin melihat pohon-pohon yang kita tanam, dan tentu saja hal itu bisa menjadi kebanggaan dan menjadikan nilai tambah untuk daerah ini, nantinya,” katanya lagi.
Selain anggur, tin dan kurma yang saat ini sudah berhasil dikembangkan di lokasi agro wisata itu adalah berbagai jenis bunga, jeruk, kelinci dan burung merpati, juga madu kelulut serta sereh wangi.
Batola merupakan daerah pertanian pasang surut juga sebagai lumbung padi Kalsel setelah Kabupaten Banjar yang terkenal dengan “kindai limpuar” nya (kindai = tempat menyimpan padi terbuat dari anyaman bambu, dan limpuar = isi yang menunjukkan melebihi daya tampung).
Daerah pertanian pasang surut Batola sendiri merupakan penerima program transmigrasi, pemekaran dari Kabupaten Banjar pada awal tahun 1960-an. (ant)
Editor: Erna Djedi







