Jumat Pagi Rupiah Melemah ke Posisi 14.408 Per Dolar AS

WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi melemah 41 poin atau 0,29 persen ke posisi Rp14.308 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.267.

Dolar AS melonjak ke level tertinggi tiga bulan pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell gagal mengungkapkan kekhawatiran tentang aksi jual obligasi pemerintah AS baru-baru ini seperti yang diharapkan para pedagang, mengakibatkan imbal hasil obligasi lebih tinggi dan permintaan untuk greenback.

Powell mengesampingkan kekhawatiran bahwa kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS baru-baru ini mungkin menimbulkan masalah bagi The Fed ketika para investor mendorong kenaikan biaya pinjaman yang ingin dipertahankan bank sentral tetap rendah.

Sementara Powell mengatakan kenaikan itu “luar biasa dan menarik perhatian saya,” dia tidak menganggapnya sebagai gerakan “tidak teratur”, atau yang mendorong suku bunga jangka panjang begitu tinggi sehingga Fed mungkin harus mengintervensi pasar lebih kuat untuk menurunkannya, seperti dengan meningkatkan pembelian obligasi bulanannya yang kini 120 miliar dolar AS.

Beberapa investor mengharapkan Powell untuk “setidaknya mengakui bahwa ada beberapa kekhawatiran tentang peningkatan imbal hasil, yang tidak dia lakukan,” kata Minh Trang, pedagang valas senior di Silicon Valley Bank di Santa Clara, California.

“Secara keseluruhan pesannya tetap sama, yang pada dasarnya mereka akan mempertahankan kebijakan moneter yang lebih longgar sampai ekonomi menunjukkan kekuatan yang konsisten dan kita kembali lebih dekat ke pra-pandemi dalam hal inflasi dan pasar tenaga kerja,” kata Trang.

Indeks dolar terakhir naik 0,53 persen menjadi 91,561, setelah mencapai setinggi 91,663, tertinggi sejak 1 Desember. Euro merosot 0,73 persen menjadi 1,1973 dolar AS, terendah sejak 5 Februari.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang dijadikan acuan naik ke setinggi 1,555 persen tetapi bertahan di bawah level tertinggi satu tahun di 1,614 persen yang dicapai minggu lalu.

Dolar telah menguat seiring dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS karena stimulus fiskal AS yang akan datang menambah bahan bakar untuk ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dan peluncuran vaksin COVID-19 meningkatkan optimisme bahwa ekonomi menuju pemulihan.