“Genangan tersebut tersebar jauh ke pemukiman lainnya, dan oleh warga setempat dijelaskan spontan menyebut bahwa bahan bakar solar berasal dari tumpahan yang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang berada di wilayah pinggir Jalan Murakata,” katanya.
Menurut dia, waktu itu pihaknya sudah mulai sibuk dengan aktifitas bersama dengan kawan-kawan relawan kemanusiaan untuk membantu evakuasi dan pembagian sembako di wilayah HST dan sekitarnya.
Selang beberapa hari tepat tujuh hari pasca banjir bandang, terlihat jelas jalanan di perumahan hitam pekat dan bau menyengat yang tajam namun tidak ada reaksi atau penanggulangan sedikit pun dari pihak yang bersangkutan.
Hingga terlihat jelas efek dari tumpahnya bahan bakar solar tersebut di pemukiman warga, hingga areal persawahaan terlihat jelas dampak yang belum hilang dan bau menyengat pada video dan gambar yang dikirim warga.
“Dengan adanya laporan ini saya juga selaku pemukim kompleks perumahan Mawaddaturrahmah dan juga Ketua Brigade 08 meminta agar pihak terkait bisa melakukan tindakan baik pembersihan yang masih menggenang dan lain sebagainya,” katanya.
Pihaknya mengharapkan perhatian dan kerjasama yang baik, agar laporan perihal tersebut dapat ditanggapi dengan segera melakukan observasi area yang terdampak, dengan genangan tumpahan bahan bakar solar tersebut dengan sesuai aturan dan kebajikan yang berlaku.
Kondisi pencemaran karena adanya tumpahan solar ini berbahaya karena sudah bisa dianggap jenis limbah B3, limbah B3 bakal merusak ekosistem tanah, terkhusus untuk petani sangat dirugikan jika dan tidak bisa ditanami lagi, ular dan cacing saja mati kepanasan apalagi tanahnya sudah bakal tidak bisa digarap lagi.