WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Panen Eco Enzyme yang dilakukan Bhayangkari Daerah Kalimantan Selatan menjadi sorotan karena dinilai bukan sekadar kegiatan seremonial. Di baliknya, terdapat proses pengolahan limbah organik yang memiliki manfaat luas bagi lingkungan, kesehatan, hingga sektor pertanian.
Akademisi dari Pusat Studi Eco Enzyme Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr. Dian Masita Dewi, menjelaskan bahwa eco enzyme merupakan teknologi sederhana yang mengolah limbah organik segar, seperti kulit buah dan sayuran, melalui proses fermentasi menjadi cairan multifungsi.
“Eco enzyme ini adalah teknologi sederhana untuk mengubah limbah organik menjadi cairan yang memiliki banyak manfaat dan dapat digunakan dalam jangka panjang,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).
Alternatif Pengganti Bahan Kimia Rumah Tangga
Dr. Dian menyebut, cairan eco enzyme dapat dimanfaatkan sebagai alternatif bahan kimia rumah tangga. Penggunaannya meliputi pembersih lantai, deterjen, hingga pencuci buah dan sayuran.
Tak hanya itu, dalam sektor pertanian dan peternakan, eco enzyme juga berfungsi sebagai pupuk organik alami. Bahkan, menurutnya, cairan tersebut dapat membantu pemulihan penyakit tungro pada tanaman padi serta mendukung penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak.
Selain manfaat domestik dan pertanian, eco enzyme juga pernah digunakan sebagai desinfektan saat pandemi COVID-19. Cairan ini dimanfaatkan untuk penyemprotan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat di berbagai daerah.
Dukung Pengurangan Sampah dan Target SDGs
