WARTABANJAR.COM, PELAIHARI - Kemarau panjang serta paparan debu asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan mulai memicu lonjakan penyakit pernapasan.

Darilaporan, ada 1.038 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang mendera warga Kabupaten Tanah Laut hingga pertengahan Oktober 2026, Kamis (22/10/2026).

Musim kemarau yang mengeringkan wilayah Tanah Laut tak hanya memicu ancaman karhutla di area lahan gambut dan semak belukar, tetapi juga membawa dampak tak kasat mata bagi kesehatan warga. 

Baca juga: Kadinkes Tanah Laut Pastikan Stok Obat ISPA Puskesmas dan Rumah Sakit Aman

Baca juga: Siswa SMAN 2 Banjarbaru Salat Istisqa dan Hajat, Berharap Hujan dan Lulus Tes

Udara gersang berlapis debu dan sebaran tipis asap sisa pembakaran lahan kini perlahan mengancam ketahanan saluran pernapasan masyarakat di bumi Tuntung Pandang.

​Kondisi tersebut berdampak langsung pada anak-anak dan orang tua. Di ruang-ruang tunggu Puskesmas dan fasilitas kesehatan (Faskes), suara batuk anak kecil hingga napas berat para lansia menjadi pemandangan yang kian sering dijumpai selama beberapa pekan terakhir seiring bertahannya cuaca kering di Tanah Laut.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Laut, dr. Hj. Isna Farida mengungkapkan bahwa tren kenaikan kasus ISPA ini tercatat dalam laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) minggu ke-40. Kendati jumlahnya mencapai ribuan kasus, pihaknya memastikan grafik penularan saat ini mulai dapat dikendalikan melalui penanganan intensif di lapangan.

​"Kasus ISPA saat ini masih menunjukkan tren meningkat jika dibandingkan dengan lonjakan yang terjadi pada bulan Agustus lalu. Berdasarkan data laporan SKDR minggu ke-40, jumlah kasus tercatat sebanyak 1.038 kasus dan berangsur terkendali," ujar dr. Hj. Isna Farida saat menyampaikan keterangannya kepada WartaBanjar.com via pesan WhatsApp, Kamis (22/10/2026).

Perubahan cuaca ekstrem dan menurunnya kualitas udara akibat kombinasi debu musim kering serta residu asap karhutla menempatkan kelompok rentan pada posisi paling berisiko.

 Anak-anak usia balita serta lansia menjadi korban terbanyak yang memerlukan perawatan pernapasan di Faskes.