Muhammad Fredly Andri, Desain Grafis Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, mengatakan lanting dapat dimanfaatkan sebagai ruang bagi pengunjung untuk mengamati dan mendokumentasikan satwa dari jarak tertentu.

“Adanya lanting memudahkan pengunjung untuk mengamati dan mendokumentasikan satwa dari jarak tertentu, sehingga aktivitas pengamatan dapat dilakukan tanpa harus mendekati atau mengganggu habitat satwa,” ujarnya.

Posisi lanting yang berada di kawasan sungai memungkinkan pengunjung mengamati kondisi sekitar tanpa harus memasuki habitat satwa secara langsung.

Konsep tersebut dapat mempertemukan tiga aspek sekaligus, yakni wisata, edukasi, dan konservasi. Pengunjung tidak hanya menikmati panorama Batu Laki, tetapi juga dapat mengenal berbagai jenis satwa yang hidup di kawasan tersebut.

Namun, aktivitas pengamatan tetap perlu dilakukan dengan memperhatikan perilaku satwa. Jarak pengamatan, suara, pergerakan pengunjung, hingga aktivitas dokumentasi perlu dikendalikan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan alami satwa.

Keberadaan bekantan di kawasan Batu Laki sekaligus memperlihatkan pentingnya menjaga vegetasi dan kualitas lingkungan di sepanjang tepian sungai. Kelestarian habitat menjadi faktor penting agar satwa dapat terus hidup dan berkembang secara alami.

Bagi Meratus UNESCO Global Geopark, potensi tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menghubungkan kekayaan geologi dan biodiversitas dengan kegiatan edukasi serta wisata berkelanjutan.

Batu Laki pada akhirnya tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga memperlihatkan hubungan antara sungai, vegetasi, satwa, dan aktivitas manusia dalam satu lanskap.

Melalui pengelolaan yang memperhatikan daya dukung lingkungan, kawasan ini memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai ruang wisata alam dan edukasi konservasi, dengan tetap menempatkan perlindungan habitat sebagai prioritas. (Wartabanjar.com/MC Kalsel/*)