WARTABANJAR.COM, BANJARBARU - Festival Seni Budaya Hadrah dan Madihin yang digelar Polda Kalimantan Selatan dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80, menjadi ajang berkumpulnya para pelaku seni dari berbagai daerah.

Di tengah meriahnya festival tersebut, salah satu peserta, Muhammad Zaini, justru menyimpan kegelisahan tersendiri.

Seniman asal Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar itu, telah menggeluti Sinoman Hadrah sejak 2008.

Kini, ia mengaku semakin sulit menemukan generasi muda yang tertarik menekuni kesenian tradisional tersebut.

“Peminatnya sangat-sangat minim sekali,” sebutnya saat ditemui usai penampilan, Minggu (21/06/2026).

Bagi Zaini, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku Sinoman Hadrah, yang selama ini berupaya menjaga keberlangsungan budaya Banua.

Salah satu penyebabnya adalah jumlah anggota yang dibutuhkan dalam satu kelompok tergolong banyak.

“Sinoman Hadrah ini berisi 20 sampai 30 orang,” katanya.

Jumlah tersebut membuat proses latihan hingga pembentukan kelompok tidak selalu mudah berjalan.

Baca Juga: Baru Tiga Kali Latihan, Polwan HST Berani Tampil di Lomba Madihin Polda Kalsel

Baca Juga: Wakili Polres Banjar, Grup Al-Fatah Sambut Positif Festival Sinoman Hadrah Polda Kalsel

“Jadi agak ribet mengumpulkan orangnya,” ujar Zaini.

Meski demikian, ia bersyukur Sinoman Hadrah masih bertahan di sejumlah daerah, termasuk di Kecamatan Martapura Barat.

“Untuk Kecamatan Martapura Barat ada lima grup Sinoman Hadrah di sana," ungkapnya.

Di tengah kondisi tersebut, Zaini mengaku senang dengan adanya Festival Seni Budaya yang digelar Polda Kalimantan Selatan.

Baginya, kegiatan seperti itu menjadi ruang bagi para pelaku seni untuk memperkenalkan kembali budaya Banua kepada masyarakat.

“Semoga Sinoman Hadrah ini lebih banyak lagi seniman-seniman muda yang akan datang,” harapnya.

Selain persoalan regenerasi, Zaini juga menyoroti pentingnya menjaga identitas Sinoman Hadrah di tengah perkembangan zaman.

Ia menilai kreasi tetap bisa dilakukan tanpa menghilangkan pakem, yang menjadi ciri khas kesenian tersebut.

“Boleh kita buat kreasi, tetapi jangan menghilangkan pakem itu Sinoman Hadrah,” tuturnya.