Acosta mengusulkan agar setiap Grand Prix memiliki jeda minimal dua pekan. Menurutnya, hal ini akan membantu pembalap menjaga ritme sekaligus mengurangi risiko kelelahan. Ia menekankan bahwa keseimbangan antara kompetisi dan kesehatan harus dijaga.
Format Pekan Balap yang Menekan
Selain jumlah seri, Acosta juga menyoroti format pekan balap yang menuntut performa maksimal sejak sesi latihan pertama. “Tidak ada waktu untuk sekadar mencari ritme. Setiap hari ada sesi penting, 22 kali per tahun,” katanya. Hal ini membuat pembalap dan kru tim berada dalam tekanan besar.
Komentar Acosta menjadi peringatan bagi penyelenggara MotoGP. Jika kalender terus dipadatkan, risiko burnout dan karier pendek bisa meningkat. Kritik ini mencerminkan kebutuhan evaluasi agar MotoGP tetap kompetitif sekaligus berkelanjutan bagi para pembalap. (Wartabanjar.com/berbagai sumber)
Editor: Andi Akbar













