“Salah kirim. Gila, malu,” tulis korban, yang menjadi komunikasi terakhirnya.
Sementara itu, saksi lain bernama Rahmat, petugas kebersihan, mengisahkan momen saat pertama kali menemukan jasad korban di drainase kawasan kampus STIH Banjarmasin. Awalnya ia mengira benda tersebut hanyalah boneka.
“Setelah diperhatikan lagi, ternyata manusia,” ujarnya.
Jasad ditemukan dalam posisi telentang, dengan kaki mengarah keluar gorong-gorong. Proses evakuasi pun berlangsung sulit karena sempitnya ruang.
Petugas evakuasi, Lazuardi dan Helmi, menyebut kondisi jasad saat ditemukan belum kaku. Korban hanya mengenakan pakaian bagian atas, sementara celana ditemukan di bawah tubuhnya.
“Leher korban tertutup kerudung,” kata Helmi.
Kesaksian lain yang menyita perhatian datang dari Dea, mantan kekasih terdakwa. Ia bahkan menolak berada satu ruangan dengan terdakwa hingga sidang dilakukan secara virtual.
“Saya sedih, marah, dan kecewa. Saya benci,” ucap Dea.
Ia mengungkap hubungan mereka telah berjalan dua tahun dan sempat merencanakan pernikahan. Namun pada malam kejadian, ia mulai curiga karena terdakwa tidak bisa dihubungi dan diduga berbohong soal alasan dinas.
Keesokan harinya, Dea justru mendapat kabar bahwa terdakwa telah diamankan polisi terkait kasus pembunuhan tersebut. Meski sempat dikonfirmasi langsung, terdakwa membantah keterlibatannya.
Persidangan masih akan berlanjut dengan agenda pemeriksaan lanjutan. Polisi juga terus mendalami rangkaian peristiwa untuk mengungkap secara utuh kasus yang menewaskan mahasiswi tersebut. (wartabanjar.com/iqnatius)
Editor Restu







