WOW! Siswa MAN 1 HST Lakukan Observasi Astronomi saat “Blood Moon” Hiasi Ramadhan, Ini Hasilnya
WARTABANJAR.COM, BARABAI - Fenomena langka Gerhana Bulan Total atau yang dikenal dengan sebutan Blood Moon menghiasi langit pada Ramadan 1447 Hijriah. Momen astronomi tersebut dimanfaatkan siswa Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Glory MAN 1 Hulu Sungai Tengah (HST) untuk melakukan observasi ilmiah secara langsung, Selasa (3/3/2026) malam.
Kegiatan pengamatan dilakukan setelah pelaksanaan sholat khusuf di Masjid Agung Riyadush Shalihin, Barabai. Para siswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengamati perubahan warna Bulan sekaligus mendokumentasikan fenomena alam yang jarang terjadi itu.
Gerhana Bulan Total terjadi ketika Bulan sepenuhnya masuk ke dalam bayangan inti Bumi sehingga tampak berwarna merah tembaga, yang dikenal sebagai Blood Moon.
Berdasarkan data pengamatan di wilayah WITA, fase penumbra dimulai sekitar pukul 16.42 WITA, kemudian fase sebagian terjadi pada 17.49 WITA. Selanjutnya fase totalitas gerhana dimulai pada 19.03 WITA, dengan puncak gerhana sekitar 19.33 WITA, dan berakhir sekitar 22.24 WITA.
Observasi tersebut diprakarsai langsung oleh anggota KIR Glory MAN 1 HST sebagai penyelenggara utama dengan pendampingan guru pembina sekaligus guru Fisika, Fatmila Nurliani.
Selain itu, kegiatan juga mendapat dukungan dari OSIM Divisi IV bidang Publikasi dan Dokumentasi yang bertugas merekam seluruh rangkaian kegiatan. Kepala MAN 1 HST, Someran, bersama warga madrasah turut hadir memberikan dukungan terhadap kegiatan ilmiah tersebut.
Fatmila menjelaskan, kegiatan observasi ini bertujuan agar siswa tidak hanya memahami teori gerhana dari buku pelajaran, tetapi juga dapat melihat langsung fenomena astronomi tersebut.
Menurutnya, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran yang menggabungkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai keimanan.
“Melalui kegiatan ini, siswa tidak sekadar melihat gerhana, tetapi juga memahami bahwa fenomena alam merupakan bagian dari sunnatullah, yaitu hukum alam yang Allah tetapkan secara teratur,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).
Dalam observasi tersebut, tim KIR menggunakan teleskop AstroMaster 130EQ sebagai alat utama untuk mengamati permukaan Bulan selama fase gerhana berlangsung.
Selain teleskop, siswa juga memanfaatkan kamera profesional dan kamera telepon genggam untuk mendokumentasikan fenomena tersebut sekaligus berlatih teknik astrofotografi sederhana.