WARTABANJAR.COM, TEHERAN – Gelombang protes nasional di Iran kian memanas. Penindakan keras aparat terhadap para demonstran menyebabkan jumlah korban tewas melonjak drastis hingga mencapai sedikitnya 544 orang, sementara lebih dari 10.600 warga dilaporkan ditahan. Di tengah tekanan internasional, Pemerintah Iran justru mengumumkan rencana aksi perlawanan nasional dan memuji aparat keamanan yang gugur sebagai “martir”.

Situasi di lapangan semakin sulit dipantau akibat pemadaman internet dan pemblokiran jaringan telepon. Meski demikian, laporan dari jurnalis dan kelompok pembela hak asasi manusia terus mengalir melalui jalur terbatas seperti koneksi satelit.

Aktivis Jerman-Iran, Daniela Sepheri, kepada DW menggambarkan kondisi Iran saat ini sebagai salah satu fase paling brutal dalam sejarah penindakan protes.

“Rezim sedang berjuang mempertahankan kekuasaan, sementara rakyat juga sedang berjuang untuk hidup dan masa depan mereka,” ujarnya.

Ia menyebut aparat keamanan tidak hanya membubarkan demonstrasi, tetapi juga mengejar korban hingga ke rumah sakit. “Kami menerima laporan-laporan mengerikan tentang pembantaian. Bahkan orang yang terluka pun tidak aman,” katanya.

Menurut Sepheri, keterbatasan akses informasi membuat verifikasi korban menjadi sangat sulit. Namun, ia memperkirakan jumlah korban sebenarnya bisa jauh lebih besar.

“Dalam dua atau tiga hari terakhir saja, mungkin sudah ada ribuan orang yang dibunuh,” ungkapnya.

Data Korban: Mayoritas Demonstran

Lembaga HAM Human Rights Activists News Agency (HRANA) mencatat dari 544 korban tewas, sebanyak 496 orang adalah demonstran, sementara 48 lainnya merupakan anggota pasukan keamanan. HRANA menegaskan angka tersebut masih berpotensi terus bertambah.

Seluruh data diklaim telah diverifikasi silang oleh jaringan aktivis di dalam dan luar Iran. Hingga kini, Pemerintah Iran belum merilis data resmi korban secara menyeluruh.

Pemerintah Iran Umumkan Aksi Perlawanan Nasional

Menanggapi situasi tersebut, pemerintah Iran menetapkan tiga hari berkabung nasional untuk anggota pasukan keamanan yang tewas. Otoritas menyebut gelombang protes sebagai “kerusuhan” yang dipicu oleh campur tangan Amerika Serikat dan Israel.