Sementara itu, Kepala Desa Sungai Buluh, Suriani, mengatakan banjir kali ini tergolong cukup parah. Sekitar 75 persen wilayah desa atau sebanyak 588 rumah terdampak banjir, dengan rata-rata ketinggian air mencapai setengah meter dari lantai rumah.
“Rumah masih bisa ditempati karena warga berinisiatif membuat tinggiran atau rampatai. Lantai rumah sudah tidak bisa digunakan karena tergenang air,” jelasnya.
Menurut Suryani, banjir tahun ini disebut sebagai yang terdalam dibanding beberapa tahun terakhir, bahkan lebih parah dari banjir besar pada 2021. Tingginya curah hujan serta kiriman air dari wilayah hulu menjadi pemicu utama.
“Wilayah kami ini daerah rendah, jadi menjadi tempat berkumpulnya air dari berbagai arah,” ungkapnya.
Adapun titik terdalam banjir di Desa Sungai Buluh berada di RT 1, RT 2, RT 5, RT 7, RT 8, dan RT 9.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah telah menyalurkan sebanyak 1.450 paket bantuan kepada warga terdampak di Kecamatan Labuan Amas Utara. Rinciannya, Desa Sungai Buluh menerima 588 paket, Desa Rantau Bujur 378 paket, Desa Mantaas 333 paket, dan Desa Pahalatan 150 paket.
Hingga saat ini, BPBD HST masih terus memantau perkembangan banjir. Warga diimbau tetap waspada terhadap potensi kenaikan debit air, terutama bagi yang bermukim di wilayah bantaran sungai.(wartabanjar.com/Adew)
editor: nur_muhammad

