Namun saat ia mencoba mencari pegangan untuk bertahan, takdir berkata lain. Tubuh sang ibu terlepas. Dalam sekejap, ia terseret derasnya arus banjir dan tenggelam. Ia pergi untuk selamanya, meninggalkan anaknya yang terikat di pohon—selamat, tetapi sendirian.
Bayi itu bertahan di dahan pohon mangga.
Menggigil.
Menangis.
Menunggu.
Ketika air mulai surut, warga menemukan bayi tersebut masih hidup. Tangis pecah di antara mereka saat menyadari kebenaran yang memilukan: anak itu selamat karena ibunya memilih mengorbankan nyawanya sendiri.
Sang ibu telah tiada, namun kisahnya hidup abadi di Simpang Empat Mereudu. Cinta seorang ibu terbukti nyata dan tak tergantikan. Terukir di batang pohon mangga, kisah ini menjadi saksi bahwa seorang ibu adalah pahlawan sejati, bahkan ketika dunia memaksanya tenggelam demi menyelamatkan nyawa anaknya.
Kisah haru ini pun mengguncang perasaan warganet. Banyak yang mengaku tak kuasa menahan air mata membaca perjuangan sang ibu.
“Berasa banget perjuangan seorang ibu, nangis,” tulis seorang warganet.
“Ya Allah, pagi-pagi sudah menangis,” komentar lainnya.
“Demi anak, nyawa pun dipertaruhkan,” tulis netizen lain dengan emoji hati dan tangis.
Bahkan mereka yang pernah terjun langsung ke lokasi bencana mengaku tak mampu menahan air mata, meski seorang laki-laki. Doa pun mengalir untuk sang ibu agar husnul khotimah, serta harapan agar sang anak kelak tumbuh sehat, kuat, dan menjadi generasi yang membawa kebaikan bagi Aceh dan Indonesia.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)
editor: nur_muhammad

