WARTABANJAR.COM, KEDIRI – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2025, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan. Pernyataan ini disampaikan dalam Seminar Pesantren Ramah Anak bertema “Dari Pesantren untuk Anak: Membangun Lingkungan Aman dan Bermartabat” yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Jumat (24/10).
“Pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda yang berakhlak dan berjiwa kebangsaan. Perlindungan anak adalah fondasi menuju Indonesia maju,” ujar Menteri PPPA.
Tantangan Era Digital dan Komitmen Pemerintah
Menteri PPPA juga menyoroti tantangan perlindungan anak di era digital, termasuk risiko kekerasan dan eksploitasi seksual online. Ia mendorong para santri untuk bijak menggunakan internet dan mengedepankan nilai kemanusiaan dalam kehidupan pesantren.
Kemen PPPA terus memperkuat ekosistem perlindungan anak melalui:
- Penguatan sistem pelaporan melalui SAPA 129 dan SIMFONI PPA
- Integrasi prinsip perlindungan anak dalam tata kelola pesantren
- Pelatihan pengasuhan tanpa kekerasan bagi ustadz dan ustadzah
- Pembentukan Satgas Perlindungan Anak Pesantren (Satgas PAP)
Dukungan Pemerintah Daerah dan Tokoh Pesantren
Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, menyatakan komitmen pemerintah daerah untuk bersinergi dengan pesantren dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bermartabat.
“Kita ingin setiap santri tumbuh percaya diri dan dibimbing dengan kasih sayang,” ujarnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, menegaskan bahwa pesantren harus menjadi tempat yang menumbuhkan akhlak mulia dan adab, bukan hanya ilmu agama.
Bantuan dan Apresiasi

