WARTABANJAR.COM, KATHMANDU – Gelombang demonstrasi besar-besaran di Nepal kian tidak masuk akal. Menurut laporan Al Jazeera, massa kini nekat menggunakan alat berat seperti ekskavator untuk menghancurkan fasilitas umum peninggalan pemerintahan terdahulu.
Pos jalan, pagar pembatas, hingga bangunan kecil diratakan tanah hanya dengan ayunan belalai baja ekskavator. Pemandangan ini menjadi bukti betapa kemarahan rakyat telah meledak tanpa kendali.

Akar Masalah: “Nepo Kids” Jadi Pemicu
Al Jazeera menyoroti bahwa penyulut utama kerusuhan ini adalah kesenjangan mencolok antara elite politik dengan rakyat miskin Nepal. Istilah “nepo kids”, plesetan dari nepotisme, viral di media sosial beberapa minggu terakhir.
Istilah ini ditujukan kepada anak-anak pejabat tinggi dan menteri yang kerap memamerkan gaya hidup mewah di negeri yang sebenarnya miskin.
Video yang beredar memperlihatkan mereka berpose dengan mobil mewah, pakaian bermerek, dan liburan glamor, sementara gaji resmi para pejabat Nepal sebenarnya kecil.
“Kemarahan atas nepo kids mencerminkan frustrasi publik yang mendalam. Dulu orang tua mereka hanyalah pekerja partai sederhana, sekarang hidup bagaikan elite mapan,” ungkap Yog Raj Lamichhane, asisten profesor di Universitas Pokhara, Nepal.
Rakyat Tuntut Investigasi Khusus
Massa kini menuntut dibentuknya komisi investigasi independen untuk mengusut sumber kekayaan politisi Nepal. Mereka menuding uang publik telah digunakan untuk membiayai gaya hidup mewah para keluarga elite.
Protes yang awalnya bernuansa politik kini berubah menjadi ledakan sosial penuh amarah, di mana rakyat miskin merasa dikhianati dan ditinggalkan oleh pemimpin yang mereka pilih.(Wartabanjar.com/berbagai sumber)

