Bagi banyak orang Nepal, Shrinkhala bukan lagi ikon kecantikan, melainkan wajah nyata kemapanan keluarga politik yang dianggap hidup dari fasilitas negara.
Gelombang protes yang melanda Nepal disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa dekade. Pemicu utamanya adalah larangan penggunaan media sosial yang diberlakukan pemerintah awal September 2025. Kebijakan itu membuat anak muda turun ke jalan, sebagian bahkan menyerbu dan membakar gedung-gedung pemerintah.
Situasi kian memanas hingga akhirnya Perdana Menteri KP Sharma Oli mengundurkan diri. Namun, langkah itu belum mampu meredakan amarah publik, yang kini juga menargetkan para nepo babies sebagai simbol ketidakadilan sosial.
Fenomena “unfollow massal” terhadap Shrinkhala Khatiwada pun menjadi bukti nyata bahwa kemarahan generasi muda Nepal tak hanya turun ke jalan, tetapi juga meledak di ruang digital.(Wartabanjar.com/berbagai sumber)
editor: nur muhammad

