WARTABANJAR.COM, UTAH – Aktivis dan politisi sayap kanan Amerika Serikat, Charlie Kirk, meninggal dunia setelah ditembak dari jarak jauh saat memberikan pidato di Utah Valley University, Rabu (10/9) waktu setempat. FBI kini mengusut siapa pelaku dan motif di balik penembakan yang mengejutkan publik AS ini.

Insiden tragis ini terjadi ketika Charlie Kirk sedang duduk di depan para mahasiswa. Pelaku menembak tepat ke lehernya, menyebabkan kehilangan banyak darah dan meninggal seketika. Penembakan diperkirakan dilakukan dari gedung Losee Center, sekitar 200 yard (180 meter) dari lokasi Charlie berada, sekitar 20 menit setelah acara dimulai.

FBI Tangkap, Lalu Bebaskan Person of Interest

Direktur FBI, Kash Patel, mengonfirmasi melalui akun X @FBIDirectorKash bahwa pelaku awalnya ditahan. Namun, setelah pemeriksaan mendalam, dua orang person of interest dibebaskan karena tidak terbukti terkait kasus ini.

“Subjek yang ditahan telah dibebaskan setelah diinterogasi. Investigasi kami masih berlanjut dan informasi terbaru akan terus kami rilis demi transparansi,” tulis Patel.

Deskripsi Pelaku Penembakan Charlie Kirk

Berdasarkan rekaman audio dan laporan di lapangan, terduga pelaku memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Pakaian serba hitam (helm, topeng, baju, celana, dan rompi taktis kemungkinan)

Kacamata aviator

Membawa senapan laras panjang hitam dan tas hitam

Memiliki rambut agak panjang

Pola serangan menunjukkan aksi yang direncanakan dengan matang, menggunakan metode penembakan jarak jauh dari gedung terpisah. Hingga kini, FBI belum mengungkap motif resmi penembakan.

Dugaan Motif Politik

Gubernur Utah, Spencer Cox, menyebut insiden ini sebagai “pembunuhan politik” karena meningkatnya kasus kekerasan politik di AS akhir-akhir ini. Presiden Donald Trump juga mengecam keras penembakan tersebut, berjanji akan mengungkap pelaku dan pihak yang berada di balik aksi kekerasan ini.

“Pemerintahan saya akan menemukan setiap orang yang berkontribusi pada kekejaman ini dan kekerasan politik lainnya, termasuk organisasi yang mendanai dan mendukungnya,” ujar Trump, dikutip The Guardian.