Ia mengungkapkan keprihatinannya mulai menurunnya penggunaan bahasa lokal di kalangan anak muda, terutama di wilayah perkotaan.
“Bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, tapi juga cermin kekayaan budaya kita. Namun, saat ini kita menghadapi tantangan besar di tengah arus modernisasi, banyak generasi muda yang tidak lagi tertarik mempelajarinya. Ini tentu menjadi keprihatinan kita bersama,” tambahnya.
Oleh karena itu, pendekatan digital dan penggunaan bahasa Banjar yang diusung oleh BKW dinilai sangat relevan dengan kebutuhan generasi saat ini.
Keterlibatan anak muda dalam isu-isu publik harus difasilitasi dengan pendekatan yang kontekstual dan berbasis kearifan lokal.
Ia menyebut pemuda harus berani menyampaikan gagasan, namun tetap menjunjung etika, kearifan lokal, dan nilai-nilai yang hidup di masyarakat kita.
Dinansyah turut mengajak seluruh peserta dan pemuda Kalimantan untuk merawat bahasa daerah, menghidupkan kembali semangat gotong royong, serta memperkuat partisipasi aktif dalam proses pembangunan daerah.
Ia berharap melalui Aruh Pemuda Kalimantan Youth Conference 2025 ini akan lahir semangat baru dan kolaborasi nyata dari para pemuda Kalimantan untuk memperjuangkan isu-isu publik secara kreatif, inklusif, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Koordinator BasaKalimantan Wiki, Hudan Nur, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mendorong perubahan perilaku pemuda agar memiliki motivasi, kesempatan, keterampilan, dan partisipasi yang lebih baik dalam kehidupan bermasyarakat.







