WARTABANJAR.COM, PARINGIN— Di tengah kebutuhan akan layanan air bersih yang merata, PT Air Minum Sanggam Balangan (AMSB) justru menjadi sorotan. Pasalnya, meski telah menerima suntikan dana segar berupa penyertaan modal senilai Rp 20 miliar dari Pemkab Balangan pada 2024, hingga pertengahan 2025 belum terlihat tanda-tanda kemajuan berarti. Dana tersebut sejatinya dialokasikan untuk pembenahan infrastruktur, penambahan jaringan distribusi, hingga penguatan SDM. Namun, harapan warga untuk menikmati air bersih yang lancar dan merata justru masih jauh dari kenyataan. Di banyak titik, keluhan warga terus berdatangan. Wanda di antaranya, yang turut mengeluhkan kondisi ini. Warga Perumahan Rizky Balangan Residence, Kecamatan Paringin Selatan ini menyebut suplai air bersih masih kerap terputus tanpa pemberitahuan. Terkait belum adanya realisasi penggunaan penambahan penyertaan modal ini, pihak manajemen PDAM terkesan diam. Direktur PT AMSB Balangan, Ari Widodo saat dikonfirmasi melalui sambungan telpon maupun pesan aplikasi percakapan tak menanggapinya. BACA JUGA: Amerika Bergejolak! Rakyat Kepung Jalan Desak Trump Mundur Usai Serang Iran Untuk diketahui, sebelumnya Komisi III DPRD Balangan telah berperan aktif mempercepat proses legislasi Raperda Penyertaan Modal guna menjamin keberlanjutan operasional PDAM. Pada waktu itu, anggota Komisi III DPRD Balangan, Erly Satriana, menekankan bahwa dukungan anggaran ini sangat vital untuk mengganti peralatan lama, termasuk booster warisan Kabupaten Hulu Sungai Utara yang dinilai tak layak pakai. Komitmen perbaikan sempat digaungkan oleh Direktur Bidang Bisnis PT AMSB, Akhmad Agus Fitriadi, awal tahun ini. Ia menyebut, penyertaan modal akan diarahkan untuk revitalisasi jaringan, penguatan SDM, hingga pengadaan teknologi pendeteksi kebocoran pipa. Salah satu program andalan bahkan disebut-sebut adalah penambahan jaringan dari IPAL Gunung Pandau ke booster di Muara Pitap, namun fakta di lapangan berkata lain. Tidak adanya pengerjaan signifikan yang bisa dibanggakan, warga mengeluh tetap kesulitan mendapatkan air bersih yang layak. (Alfi) Editor: Yayu