WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Kepindahan Toprak Razgatlioglu ke ajang MotoGP pada musim 2026 bersama Prima Pramac Yamaha menimbulkan pertanyaan besar di kalangan penggemar dan analis: apakah gaya balap agresif Toprak akan cocok dengan motor MotoGP, khususnya Yamaha YZR-M1?
Sebagai juara World Superbike (WSBK), Toprak dikenal dengan gaya balap ekstrem, atraktif, dan berani mengambil risiko, terutama dalam manuver late braking dan sliding di tikungan. Namun, MotoGP dengan teknologi dan tuntutan teknis yang berbeda bisa menjadi tantangan tersendiri.
Late Braking: Senjata Utama yang Bisa Jadi Pedang Bermata Dua
Toprak sering mencuri perhatian lewat aksinya melakukan pengereman terlambat, bahkan melebihi batas wajar dibanding rivalnya di WSBK. Gaya ini cocok dengan motor superbike berbasis produksi massal, namun berbeda dengan prototipe MotoGP seperti YZR-M1 yang menuntut presisi tinggi dan manajemen ban yang lebih ketat.
Menurut analis teknik MotoGP, gaya late braking Toprak bisa menguntungkan di trek-trek seperti Austin, Sachsenring, atau Argentina, tetapi bisa jadi kurang optimal di sirkuit flowing seperti Mugello atau Assen.
YZR-M1: Motor Lembut, Butuh Ketelitian
YZR-M1 milik Yamaha dikenal memiliki karakter smooth, stabil di tikungan cepat, namun kurang bertenaga di akselerasi dibanding Ducati atau KTM. Motor ini menuntut gaya balap mengalir, dengan minim kesalahan pengereman dan fokus pada momentum cornering.
“YZR-M1 bukan motor yang cocok untuk pembalap yang terlalu agresif. Ia membutuhkan ritme yang konsisten,” kata seorang teknisi Yamaha yang tak disebutkan namanya kepada media Eropa.

