Pria berusia 23 ini telah menekuni dunia perkebunan sejak duduk di bangku SMP.
Selama hampir satu dekade, ia telah merasakan pahit manisnya bertani, dari gagal panen akibat cuaca ekstrem hingga keberhasilan memanen dalam jumlah besar.
Kini, dengan semangat dan pengalaman yang terus bertambah, ia menjadi salah satu sosok muda inspiratif di dunia pertanian Balangan.
Ia tak hanya bertahan, tetapi juga terus mencari inovasi untuk menghadapi perubahan iklim dan tantangan alam.
“Saya belajar dari kesalahan sendiri. Gagal panen itu sakitnya bukan cuma di dompet, tapi juga di hati, tetapi dari situ saya jadi makin semangat buat cari cara yang lebih baik,” tutur Irul sambil tersenyum. (alfi)
Editor: Yayu







