WARTABANJAR.COM, WASHINGTON DC – Pemerintah Amerika Serikat secara resmi mengundurkan diri dari peran aktif sebagai mediator utama dalam konflik Rusia–Ukraina dan memutuskan untuk mengalihkan perhatian pada dukungan strategis bagi Kyiv. Keputusan ini diambil setelah berbulan-bulan upaya mediasi gagal mewujudkan gencatan senjata maupun kemajuan diplomatik. Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce, menegaskan bahwa tanggung jawab penuh penyelesaian konflik kini berada di tangan Rusia dan Ukraina. BACA JUGA:Satpol PP Grebek 14 Warung Pajang Spanduk Kratingdaeng, Ilegal dan Tidak Melunasi Kewajiban Pajak “Kami tidak akan terus-terusan terbang ke berbagai penjuru dunia hanya untuk memediasi pertemuan. Sekarang saatnya Rusia dan Ukraina menyusun dan menyampaikan gagasan nyata untuk mengakhiri konflik ini,” ujar Bruce, Jumat (2/5/2025). Trump Frustrasi: “Jika Tak Ada Itikad Baik, AS Mundur!” Presiden AS Donald Trump, yang sempat mengklaim bisa menghentikan perang “dalam satu hari” jika terpilih kembali, menyatakan kekecewaannya atas stagnasi negosiasi. Melalui akun Truth Social, Trump menulis: “Vladimir, hentikan! 5.000 tentara meninggal setiap minggu. Mari selesaikan perdamaian ini.” Meski Mundur dari Mediasi, AS Perkuat Dukungan untuk Ukraina Walaupun tidak lagi terlibat sebagai penengah, AS tetap melanjutkan bantuan strategis kepada Ukraina, antara lain: Kerja sama teknologi militer—transfer sistem persenjataan canggih. Pelatihan dan peralatan—pendidikan militer dan suplai logistik. Penguatan pertahanan energi & logistik—menjamin pasokan listrik dan suplai bahan bakar. Selain itu, Departemen Luar Negeri AS telah menyetujui penjualan peralatan pertahanan senilai US$ 50 juta (sekitar Rp 823 miliar) untuk membantu Ukraina menghadapi serangan militer Rusia. BACA JUGA:Kecelakaan Lalu Lintas di Jalan Gerilya Banjarmasin, Wanita Terluka Parah di Kepala! Keputusan ini mencerminkan pergeseran strategi Washington dari diplomasi aktif ke dukungan langsung bagi Kyiv. Di tengah konflik yang masih memanas dan korban jiwa yang terus bertambah, dunia kini menanti: apakah langkah ini akan mempercepat perdamaian atau justru menambah ketegangan?(Wartabanjar.com/kompascom/cnn/berbagai sumber) editor : nur muhammad