Pada Kamis, 3 April 2025, kondisi A semakin memburuk dengan pendarahan terus terjadi disertai nyeri hebat. Haris mencoba menghubungi RSUD Kota Bima, namun mengetahui bahwa seluruh dokter kandungan sedang tidak aktif. Pada Jumat dini hari, 4 April 2025, sekitar pukul 01.10 WITA, A kembali dilarikan ke RSUD Kota Bima, namun dokter kandungan tetap tidak tersedia. Petugas medis yang berjaga memberikan pertolongan darurat, namun janin yang tidak aktif keluar dari tubuh A, yang kemudian dinyatakan sebagai keguguran.
Direktur RSUD Kota Bima, dr. Fathurrahman, menjelaskan bahwa rumah sakit menerima pasien pada malam hari setelah ditangani di Puskesmas, dan biasanya dokter spesialis sudah berkoordinasi sebelum cuti untuk memastikan pelayanan tetap tersedia. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima, Ahmad, menambahkan bahwa pasien diperiksa oleh bidan jaga di RSUD dan disarankan untuk melakukan USG ke dokter praktek karena poli RS saat itu tutup.
Meski sangat terpukul, Haris mengaku tidak menyalahkan pihak manapun. Ia hanya berharap kejadian serupa tidak terulang lagi dan meminta agar pelayanan medis bagi ibu hamil menjadi prioritas.(vri/berbagai sumber)

