Mayoritas kerangka menunjukkan luka fatal akibat senjata tajam dan proyektil, seperti pedang, tombak, belati, dan anak panah. Ini menunjukkan bahwa mereka kemungkinan besar adalah prajurit Romawi yang gugur dalam pertempuran sengit.
Yang mengejutkan, penguburan massal ini tidak sesuai dengan praktik pemakaman umum Kekaisaran Romawi pada masa itu, yang biasanya dilakukan melalui kremasi.
“Dalam Kekaisaran Romawi, ada ritual pemakaman yang ketat. Sekitar tahun 100 Masehi, kremasi adalah praktik umum. Jadi, menemukan kerangka utuh dari masa ini adalah hal yang sangat langka,” jelas Kristina Adler-Wölfl, Kepala Arkeologi Kota Wina.
Bukti Fisik Pertama Pertempuran Kuno
Penemuan ini diyakini sebagai bukti fisik pertama dari pertempuran besar di sekitar Vindobona. Hal ini memperkuat catatan sejarah tentang konflik antara pasukan Romawi dan suku-suku Jermanik di sepanjang perbatasan utara Kekaisaran, terutama pada masa pemerintahan Kaisar Domitian (81–96 M) dan Kaisar Trajan (98–117 M).
“Ini adalah bukti konkret bahwa pertempuran skala besar pernah terjadi di wilayah ini,” ujar arkeolog Martin Mosser. “Simmering kemungkinan besar adalah lokasi dari salah satu pertempuran tersebut.”
Penelitian Lanjutan: Mengungkap Kisah Para Prajurit
Tim arkeolog kini tengah melanjutkan proses penggalian serta analisis lebih lanjut, termasuk uji DNA dan isotop, untuk mengungkap asal-usul para prajurit dan pola hidup mereka sebelum gugur dalam pertempuran.
Veronica Kaup-Hasler, Anggota Dewan Kota Wina untuk Bidang Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan, menyatakan, “Di Wina, setiap kali kami menggali tanah, kami hampir selalu menemukan jejak Romawi. Vindobona adalah fondasi dari kota ini.”