Walau begitu, perjuangan mereka tak selalu mulus.
Hujan menjadi musuh utama kostum mereka yang tak tahan air.
Cat perak Manusia Silver mereka juga bisa luntur.
“Kalau hujan, ya cuma bisa berteduh dan berharap besok lebih baik,” kata Adun.
Mereka bukan hanya tampil di Banjarmasin.
Bersama rekannya, Tam, yang mengenakan kostum Kuntilanak dari Bandung, mereka telah berkeliling ke Palangkaraya dan Lamandau, Kalimantan Tengah.
BACA JUGA: Seruan Boikot Produk-produk Israel dan AS Kembali Bergema, Aksi Yaumul Quds di Banjarmasin
Saat ada pameran, Adan bahkan merangkap sebagai penjual es, membuktikan bahwa pekerja lapangan harus serba bisa.
Bagi mereka, kerja keras bukan hanya tentang mencari uang, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain.
Di balik tawa pengunjung yang berfoto dengan mereka, ada semangat pantang menyerah.
Mereka bukan sekadar pemakai kostum mereka adalah seniman jalanan yang menghidupkan suasana Pasar Wadai Ramadhan dengan keringat dan kreativitas.(Ramadan)
Editor: Yayu