Dugaan Bullying Terjadi Lagi di Sekolah di Banjarmasin, Orang Tua Korban Laporkan Sekolah dan Terduga Pelaku ke Polisi
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN- Dugaan kasus kekerasan berupa perundungan atau bullying baru-baru ini kembali terjadi di sekolah di Kota Banjarmasin.
Kejadian tersebut sempat terekam kamera CCTV sekolah, memperlihatkan beberapa anak murid sekolah tersebut diduga menganiaya murid lainnya, pada Jumat (21/2/2025) sore lalu.
Kejadian tersebut membuat siswa yang masih duduk di kelas 5 SD itu menjadi korban dalam kejadian tersebut, mengalami luka lebam dan memar di sekujur tubuhnya.
Melihat ini, ayah korban, Reza Febiardi (39), tidak terima lalu melaporkan kejadian tersebut ke Mapolresta Banjarmasin agar kejadian ini diproses secara hukum.
Saat ditemui awak media, Kamis (27/2/2025) sore, ia mengatakan sebelumnya ia sudah mencoba melakukam tindakan secara damai ke pihak sekolah dan juga keluarga siswa yang diduga sebagai pelakunya, namun tidak menemui titik temu yang memuaskan sehingga ia memutuskan menempuh jalur hukum.
Reza memaparkan mengetahui kejadian tersebut saat dia melihat tubuh anaknya mengalami luka memar dan lebam pada Jumat (21/2/2025) lalu.
Dia kemudian merasa ada yang tidak wajar dengan anaknya lalu bertanya ke anaknya namun masih belum mendapat jawaban yang jelas.
“Karena saya ingin tahu kebenarannya, jadi besoknya saya cek ke sekolahnya. Setelah saya melihat video CCTV, ternyata anak saya dianiaya oleh teman sekelasnya,” papar Reza.
Di video itu, paparnya, terlihat anaknya dipukul, ditendang, dipiting dan dibanting sehingga anaknya mengalami luka lebam.
Setelah mengetahui kejadian tersebut, lantas Reza pun meminta pertanggungjawaban pihak sekolah juga para keluarga siswa yang diduga pelaku penganiayaan tersebut.
Pada Senin (24/2/2025) lalu, ia memang ada bertemu pihak sekolah dan juga para keluarga siswa tersebut, namun dari pertemuan tersebut belum menemukan solusi memuaskan.
Ia menyesalkan keluarga para siswa terduga pelaku tersebut tak ada meminta maaf sama sekali ke pihaknya, bahkan juga pihak sekolah disebutnya tidak ada memberikan sanksi tegas terhadap siswa-siswa tersebut.
Keesokan harinya, tutur Reza, dia bersama keluarganya kembali diminta pihak sekolah untuk datang ke sekolah tersebut guna membicarakan masalah ini, namun ternyata bukan pertemuan seperti yang dibayangkannya.
BACA JUGA: Ini Bacaan Niat Puasa Ramadan Satu Bulan Penuh
Ketika datang ke sekolah, ia terkejut karena disodori pihak sekolah surat hasil mediasi berisi keputusan dari sekolah tentang sanksi dan pertanggungjawaban untuk kejadian tersebut.
“Dalam surat tersebut ditulis hasil mediasi, di sini yang saya bingung, ini hasil mediasi yang mana? Karena saya tidak pernah ada menyetujui hasil keputusan mediasi dalam bentuk apapun," katanya.
Ia menyimpulkan, ini berarti adalah keputusan sepihak saja dari sekolah, terlebih lagi dalam surat tersebut tidak dijelaskan secara rinci bagaimana bentuk pertanggungjawabannya yang kemudian membuatnya keberatan.
Mengaku Lebam Kena Bola
Sebelumnya, Reza menyampaikan, pada Selasa (4/2/2025), anaknya sempat mengalami luka dan lebam pada bagian wajah, namun anaknya mengaku itu karena terkena bola saat berolahraga di sekolah.
“Jadi saya cuma menganggap itu biasa saja karena kenakalan anak-anak akibat bermain saja. Namun, setelah melihat video kemari baru saya tahu kalau itu karena tindakan bulliying dari siswa yang lain,” ucap Reza.
Karena curiga, ia bertanya lagi kepada anaknya, lalu terungkap bahwa kejadian ini ternyata tidak hanya sekali, tetapi sudah terjadi sejak anaknya kelas 4 SD.
"Sampai-sampai anak saya berkata ‘Saya sudah biasa dibegitukan’, jadi berarti menurut saya ini sudah parah," keluhnya lagi.
Hal itulah yang membuat keluarganya kemudian melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian, agar diproses secara hukum.
Akibatnya dari kejadian tersebut, ungkap Reza, sekarang anaknya takut pergi ke sekolah, les, bahkan keluar rumah.
“Memang siswa-siswa tersebut dikenakan sanksi skorsing selama 5 hari, tetapi setelah itu 'kan bisa sekolah lagi. Sementara anak saya, jangankan sekolah, keluar rumah saja dia takut,” lanjutnya.
Ia berharap, dengan adanya laporan ini pihaknya bisa mendapat keadilan dan pertanggungjawaban yang jelas terhadap anaknya.
“Seandainya dari kemarin pihak para keluarga siswa tersebut mau minta maaf dan berdamai, kita tidak akan sampai melapor ke polisi. Tetapi, jangankan minta maaf, memberi respons terkait kejadian tersebut pun tidak, jadi saya nilai tidak ada itikad baiknya sama sekali,” katanya.
Dengan kejadian ini, ia berharap hal serupa tidak terjadi lagi ke siapa pun.
"Karena kasihan perjalanan mereka masih panjang. Makanya, di sini saya melaporkan pihak sekolah dan juga para keluarga siswa yang diduga melakukan penganiayaan tersebut,” sambungnya.
Ia berharap akan ada keadilan untuk anaknya.
Ia juga menegaskan dengan ini tak ada mkasud mencari keuntungan melainkan hanya ingin agar anaknya mendapat keadilan.
"Disini saya tidak ada ingin mencari keuntungan, hanya ingin ada keadilan untuk anak saya,” tegasnya.
Tanggapan Polisi
Sementara itu, saat dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin, AKP Eru Alsefa, melalui Kanit PPA, Ipda Partogi Hutahaean, membenarkan adanya laporan tersebut.
“Untuk laporan memang ada, tentang dugaan penganiayaan terhadap anak. Saat ini masih dalam proses penyelidikan,” ucap Partogi.
“Hari ini kita sudah minta keterangan pelapor dan juga anak yang menjadi korban,” pungkasnya. (Iqnatius)
Editor: Yayu